Pages

Sunday, March 17, 2013

Pasangan Hidup (bag 3)

Salam jumpa kembali pembaca yang budiman. Kali ini saya akan meneruskan kisah luar biasa tentang sepasang manusia pertama yang ada di dunia. Tulisan ini adalah bagian ketiga dari seri Pasangan Hidup. Pada bagian pertama kita belajar bahwa inisiatif untuk manusia berpasangan berasal dari Tuhan. Dan pada bagian kedua kita belajar bahwa Tuhan berikan tanggungjawab atas manusia yang harus diselesaikan sebelum memasuki kehidupan berpasangan. Nah, pada bagian ketiga ini kita akan pelajari kelanjutan kisah kasih yang luar biasa ini.
 
Kej 2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.
 
Setelah Adam menyelesaikan tugasnya, Tuhan membuatnya tidur nyenyak. Setelah tugas yang begitu berat itu selesai dikerjakan, ada kemungkinan bahwa tubuh Adam letih. Walau tidak diceritakan dengan jelas bahwa hal itu terjadi, namun kemungkinan bahwa Adam mengalami keletihan itu ada. Salah satu bagian paling menarik dari Alkitab yang menumbulkan kekaguman dan memunculkan banyak pertanyaan adalah kisah-kisah sebelum manusia jatuh dalam dosa. Namun disini saya tidak akan membahas mengenai hal itu. Baiklah, mari kita kembali ke topik. Tuhan Allah membuat Adam tidur nyenyak, karena memang manusia sangat mungkin mengalami keletihan walau diciptakan serupa dan segambar dengan-Nya. Buktinya Tuhan ciptakan bahan-bahan yang bisa dimakan oleh manusia. Jika manusia butuh makanan, maka ia juga butuh memulihkan tenaga yang terkuras karena aktivitas. Allah itu Roh, namun manusia adalah makhluk roh sekaligus daging. Ini yang membuat manusia perlu makanan dan istirahat.

Tuhan bukan hanya membuat Adam tidur, namun tidur nyenyak. Tidur yang pulas, berkualitas, dalam, dan susah dibangunkan. Dan apa yang terjadi sementara Adam tidur nyenyak? Tuhan mengambil salah satu rusuk Adam dan menutupnya dengan daging. Disini Tuhan sedang berkarya. Di saat yang tidak disadari olah Adam, tangan Tuhan sedang berkarya. Berkarya untuk mewujudkan apa yang dikehendaki-Nya, yaitu memberikan pasangan yang sepadan buat Adam. Pelajaran penting pertama yang bisa kita petik disini adalah waktu Tuhan adalah waktu yang tidak kita sangka atau sadari. Tuhan membentuk pasangan kita pada saat kita tidak sadari. Kedua, percayakanlah hal pembentukan pasangan kita kepada-Nya. Mempercayai Tuhan melibatkan menyalibkan keakuan. Karena pasangan kita, walaupun dibentuk dari bagian diri kita, dia bukanlah milik kita, dia milik Allah. Dan Dia yang adalah sempurna dalam segala karya-Nya, tidak akan memberikan rumput liar padahal anak-Nya butuh roti. Tuhan kitalah yang membentuk karakter dan kepribadian pasangan kita. Bukan bagian kita merisaukan hal ini. Bagian kita adalah bertanggungjawab atas tugas-tugas yang diberikan-Nya sebagai pelatihan kita menuju kehidupan rumah tangga. Bagaimana mungkin kita akan bertanggungjawab dengan kesehatan, keuangan, kerohanian, dan kebutuhan-kebutuhan pasangan jika kita tidak bertanggungjawab mengenai hal-hal itu atas diri sendiri?

Maka kesibukan yang perlu kita pelihara selama masa penantian Tuhan pertemukan kita dengan pasangan adalah melakukan tanggungjawab pribadi dengan sebaik-baiknya dan melatih diri untuk menjadi seorang suami, istri, ayah, dan ibu. Wahai para pria, tugas dan tanggungjawab seorang suami dan ayah itu sangat berat, bahkan lebih berat daripada seorang presiden. Seorang yang bisa memimpin keluarganya dengan baik dan penuh tanggungjawab pasti bisa memimpin orang lain dengan baik. Sebaliknya, orang bisa menampakkan diri sebagai figur pemimpin yang baik di luar keluarga namun di keluarganya sendiri tidak bertanggungjawab secara jasmani dan rohani, maka tinggal tunggu tanggal mainnya, citra dirinya di depan orang banyak akan hancur berantakan. Dan para wanita, tugas seorang istri dan ibu itu juga tidak mudah sama seperti bagi pria menjadi suami dan ayah itu tidak mudah. Mari kita belajar bertanggungjawab sebelum benar-benar memasuki kehidupan berpasangan. Baiklah, sekarang kita lanjutkan kisahnya.

Kej 2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.

Biarkan Tuhan yang berkarya atas pasangan kita. Bagian kita adalah mempercayai-Nya dan mempersiapkan diri. Dan apa yang terjadi setelah Tuhan selesai membentuk kita dan pasangan menjadi pribadi yang utuh? Dia mempertemukan kita dan pasangan sebagaimana Dia mempertemukan Adam dan istrinya. Waktu yang terbaik untuk mempertemukan pasangan adalah ketika keduanya telah utuh sebagai pribadi dan siap untuk membina hubungan berpasangan. Dan ketika waktu itu tiba, inilah yang terjadi.

Kej 2:23-24 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

Ketika Adam dipertemukan dengan yang sepadan, AHA! Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Saat dipertemukan pun Adam tidak lantas jadi lupa tanggungjawab. Sebab kalangsungan bumi adalah tanggungjawab Adam, termasuk makhluk cantik yang belum bernama yang dia temui sekarang. Adam kembali melakukan tugasnya sesuai otoritas yang diberikan Tuhan padanya atas seluruh bumi, dengan itu dia menamai makhluk Tuhan paling indah itu perempuan, karena diambil dari laki-laki. Saya akan sedikit memberi paparan tentang bahasa asli dari kata "manusia", "laki-laki", dan "perempuan" supaya kita tidak bingung dengan penggunaannya dalam bahasa Indonesia. Kata "manusia" yang dipakai pada pembahasan kita mulai bagian pertama sampai sekarang berasal dari bahasa Ibrani, 'âdâm. Laki-laki berasal dari bahasa Ibrani, 'îysh. Sedangkan perempuan berasal dari bahasa Ibrani, 'ishshâh nâshîym. Dari konteks ini mereka adalah satu daging karena perempuan dibentuk dengan mengambil bagian dari laki-laki. Karena manusia pada masa sebelum kejatuhan rohnya seiya sekata dengan Roh Tuhan, maka pernikahan digambarkan sebagai kesatuan daging. Jika seluruh manusia rohnya selaras dengan Roh Allah maka tidak perlu dilakukan checking roh untuk menuju pernikahan. Namun setelah kejatuhan manusia dalam dosa, checking roh menjadi hal yang wajib dan pertama yang harus dilakukan sebelum berkata AHA. Apakah lawan jenis yang sedang berada di hadapan kita ini sama-sama selaras dengan Roh Allah seperti kita?

Mal 2:15 Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

Kesatuan daging saja tidak akan menghasilkan keturunan ilahi. Hanya kesatuan daging dan roh yang bisa menghasilkan keturunan ilahi. Oleh karena itu checking roh jadi syarat mutlak untuk memutuskan AHA! Kalau hanya bersatu dalam daging, maka keturunan yang dihasilkan hanyalah keturunan jasmaniah. Tapi pernikahan yang satu roh, dengan Roh Allah yang memimpin akan menghasilkan keturunan ilahi yang mengibarkan panji kemenangan dan menggenapi rencana Allah dari semua untuk manusia supaya mereka: beranak cucu, bertambah banyak, memenuhi bumi, berkuasa, dan taklukkan itu. Tanpa keturunan ilahi, manusia hanya mampu beranak cucu, bertambah banyak, dan menuh-menuhin bumi.

Dari tulisan-tulisan sebelumnya sampai sekarang kita dapat pelajari beberapa prinsip:
  • Inisiator dalam berpasangan adalah Tuhan.
  • Bagian kita adalah mengerjakan tugas-tugas yang dipercayakan Tuhan pada kita dengan penuh tanggungjawab hingga selesai.
  • Tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan Tuhan adalah pembelajaran sebelum kita masuk pada fase berpasangan.
  • Tuhan mempersiapkan pasangan hidup yang terbaik untuk kita. Dia membentuk pasangan kita menjadi pribadi yang utuh bahkan saat kita tidak menyadarinya.
  • Tuhan mempertemukan kita dengan pasangan di saat kedua pribadi sudah benar-benar utuh dan siap berpasangan.
  • Tujuan berpasangan adalah pernikahan, tidak ada main-main atau coba-coba. Dan di dalam pernikahan ada buah yang dihasilkan yaitu keturunan ilahi. Maka dalam pernikahan harus ada kesatuan roh dan daging.

Dengan ini maka usailah seri Pasangan Hidup yang kita pelajari dari kisah Adam dan Hawa. Kisah yang memberi kita pelajaran penting tentang prinsip berpasangan. Semoga bermanfaat bagi pembaca sekalian. Sampai bertemu di tulisan berikutnya.

Saturday, March 9, 2013

Pasangan Hidup (bag 2)

Selamat berjumpa kembali dalam seri Pasangan Hidup. Pada bagian yang pertama kita telah belajar bahwa yang berinisiatif untuk menjadikan penolong bagi Adam adalah Tuhan. Ketikdakberadaan penolong tidak membuat Adam tidak utuh sebagai pribadi. Adam juga tidak kesepian sehingga Tuhan menjadikan penolong baginya. Adam mengalami kepenuhan sebagai pribadi karena Allah yang memenuhi hidupnya. Jadi jika kita, manusia modern mulai berinisiatif dan kemudian mencari pasangan karena ingin membuat diri kita jadi utuh maka kita sudah salah besar. Motivasi yang salah menghasilkan buah yang tidak baik. Maka sebelum memasuki fase berpasangan, pastikan kita sudah utuh sebagai pribadi, tidak mencari pemenuhan kasih sayang ataupun jati diri dari pasangan. Karena satu-satunya pribadi yang sanggup membuat hidup kita utuh adalah Tuhan. Dimiliki dan memiliki Tuhan adalah satu-satunya kepemilikan yang tidak akan pernah mengecewakan karena tidak pernah ada kata berpisah atau kehilangan dalam kepemilikan ini.
Baiklah, jika kita sudah tahu bahwa inisiatif adalah bagian Allah, maka apa bagian yang harus dikerjakan manusia? Mari kita tengok kisah selanjutnya.

Kej 2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.

Tuhan memberikan manusia (Adam) sebuah pekerjaan, yaitu memberi nama binatang-binatang yang dibawa Allah kepadanya. Ada tanggungjawab dan tugas yang diberikan oleh Allah untuk dikerjakan oleh Adam. Pekerjaan memberi nama itu bukan pekerjaan yang enteng. Mari kita bayangkan diri kita adalah Adam, yang diperhadapkan pada begitu banyak makhluk yang tanpa nama. Dan Tuhan memberi otoritas manusia untuk menamai makhluk-makhluk tersebut. Dalam ilmu biologi kita mengenal istilah binomial nomenklatur, yaitu penamaan dengan menggunakan dua kata yang menjelaskan secara singkat tentang identitas suatu spesies. Pekerjaan memberi nama ini tidak asal "njeplak". Karena Adam tentu harus mengamati dan mengenal ciri-ciri khusus dari binatang-binatang yang harus dinamainya. Karena seperti nama yang diberikan Adam kepada binatang itu, demikianlah nanti namanya. Nama mencerminkan identitas, dan identitas itu unik, maka Adam harus menemukan keunikan tiap-tiap makhluk, dan memberi nama yang unik pula untuk mereka.

Kej 2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

Dan apa yang dilakukan Adam dengan pekerjaan yang Tuhan percayakan kepadanya? Dia melakukannya seperti apa yang Tuhan perintahkan. Dia bertanggungjawab atas tugas yang dipercayakan Tuhan kepadanya. Tugas yang tidak mudah seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Dari kisah ini kita bisa ambil sebuah prinsip bahwa Tuhan punya tugas dan tanggungjawab yang harus kita selesaikan. Adakah kita sudah bertanggungjawab atas tugas-tugas itu? Mengerjakannya hingga selesai, tepat seperti yang Tuhan perintahkan. Banyak anak muda yang coba-coba membangun hubungan khusus dengan lawan jenis padahal tanggungjawab untuk menyelesaikan studi belum dilampaui. Kalaupun tugas-tugas tersebut mendekati masa penyelesaian, adakah itu dikerjakan dengan penuh tanggungjawab dan sebaik-baiknya? Jika sampai disini mata anda sudah merah, lebih baik beristirahat dulu. Jangan terburu-buru menolak apa yang saya sampaikan. Jika mata pembaca yang budiman masih sanggup melanjutkan, maka saya akan melanjutkan. Ada pula yang lebih memalukan, ongkos PDKT masih dapat dari orang tua. Coba bayangkan, berpasangan adalah fase yang Allah kehendaki untuk sepasang insan yang berlainan jenis menuju pernikahan. Adakah orang yang punya niat menuju pernikahan tidak mempersiapkan keuangan dengan baik sehingga untuk "operasional PDKT" saja masih menodong orang tua? Jika ada, maka saya hanya akan geleng-geleng kepala melihatnya. Saya hanya ingin berbagi tentang pola yang diteladankan oleh leluhur kita pada saat mereka belum jatuh dalam dosa. Pola ilahi yang diturunkan langsung oleh Tuhan.

Ada hal menarik yang terjadi ketika Adam melakukan tugas yang Tuhan berikan, bahwa baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Adam menyadari jika ada yang menolongnya, maka tugas-tugas yang diberikan Tuhan akan lebih mudah dan ringan dikerjakan. Tapi lihatlah apa yang Adam dapati, dia tidak menemukan yang sepadan diantara semua makhluk yang dijumpainya. Jika kita berpikir sedikit lebih liberal, seandainya Adam mau sedikit ngawur, maka dia bisa saja mengambil salah satu binatang (mungkin yang paling pintar) untuk jadi penolongnya. Tapi syukurlah Adam masih waras, dia tahu mana yang sepadan dan mana yang tidak sepadan. Dalam situasi ini harap dipahami bahwa ada kemungkinan bahwa Adam tidak tahu rencana Allah bahwa Dia akan menjadikan penolong baginya, namun ada pula kemungkinan dia tahu bahwa Allah berencana menjadikan penolong yang sepadan baginya. Jika Adam tahu rencana Allah, maka saat binatang-binatang tersebut diperhadapkan kepadanya, selain mengerjakan tugas yang diberikan Tuhan bisa jadi dia juga menyeleksi mana yang sepadan. Jika Adam tidak tahu rencana itu, maka memang di dalam dirinya muncul semacam kebutuhan akan hadirnya seorang penolong. Kemungkinan manapun yang benar, pada akhirnya Adam tidak asal comot. Karena dia tahu siapa Allahnya. Mari kita refleksikan ke kehidupan kini. Tidak jarang kita temui anak muda asal comot dengan dalih karena si anu yang tidak seiman itu baik sedangkan semua yang seiman kok sepertinya tidak ada yang baik. Percayalah, pembaca yang budiman, di dunia ini masih banyak high quality jomblo dan single yang sedang dipersiapkan Allah untuk ketemu dengan high quality jomblo dan single lainnya. Kerjakan saja bagian kita, Kerjakan tanggungjawab yang sudah Allah percayakan atas hidup kita. Dengan menjadi pribadi single yang bertanggungjawab, Tuhan sedang mempersiapkan kita menjadi pribadi yang bertanggungjawab atas rumah tangga kita kelak. Tidak ada kata coba-coba dalam kamus Tuhan. Dan bapa leluhur kita sudah memberi teladan untuk tidak coba-coba, karena berpasangan di dalam kekristenan tujuannya adalah pernikahan. Jika kita belum punya niat untuk menikah, jangan coba-coba.

Amsal 24:27 Selesaikanlah pekerjaanmu di luar, siapkanlah itu di ladang; baru kemudian dirikanlah rumahmu.

Semoga amsal di atas dapat meneguhkan keyakinan yang sedang saya sampaikan kepada pembaca yang budiman. Pada tulisan yang berikutnya, kita akan menggali lebih dalam tentang proses Tuhan atas pasangan kita. Nantikan terus serial Pasangan Hidup di channel kesayangan anda :)

Wednesday, February 13, 2013

Valentine's Day




Bulan Februari disebut sebagian orang sebagai bulan penuh cinta. Tema yang ditampilkan di tempat-tempat umum seperti mall, taman kota, dan tempat hiburan biasanya adalah kasih sayang, dengan segala aksesoris khas Valentine dan warna pink. Tak ketinggalan media, baik yang mainstream (TV, radio, majalah) maupun social (twitter, facebook, dll), semua menghadirkan nuansa kasih sayang. Industri coklat kegirangan ketika memasuki bulan Februari karena mereka tentu banjir pesanan. Hal yang sama juga terjadi pada industri boneka, pernak pernik, dan kartu ucapan. Tempat-tempat nongkrong seperti cafe atau restoran biasanya menyediakan pelayanan khusus di tanggal 14 Februari. Semua keceriaan, ketulusan, kegembiraan itu terlihat begitu indah, termasuk bagi mereka yang jomblo seperti saya (walaupun ada beberapa yang jadi mupeng dan jengkel karena tidak punya pasangan saat Valentine). Namun saya tertarik untuk melihat dan menelusuri fenomena hari Valentine yang sekarang ada di depan mata kita.

Sejarah tentang hari Valentine dari sumber Katholik merujuk kepada setidaknya dua orang martir yang bernama Valentinus. Mereka diperkirakan hidup di sekitar abad ketiga masehi. Seorang adalah pastor di Roma, dan seorang lain adalah uskup Interamna. Kedua orang ini dengan kemartirannya masing-masing menunjukkan kasih yang besar kepada Tuhan dengan setia sampai mati. Kemartiran inilah yang mendasari tanggal 14 Februari ditetapkan sebagai hari Santo Valentinus. Dalam perkembangannya, pada abad pertengahan, hari tentang kisah kasih martir ini entah bagaimana cerita pastinya kemudian lebih mendunia sebagai kasih romantis. Ada banyak mitos dan legenda yang mewarnai kisah beralihnya esensi perayaan hari Valentine dari kasih kepada Tuhan menjadi kasih kepada pasangan. Namun, karena semuanya adalah konon, maka saya tidak akan membahasnya disini. Hal pertama yang terkuak dari kisah Valentine adalah bahwa sesungguhnya perayaan hari Valentine di gereja itu memperingati kemartiran, bukan asmara.

Eros, atau asmara, atau kasih romantis, atau jatuh cinta, adalah hal yang sangat alami yang bisa dialami semua manusia. Harap diperhatikan bahwa eros bukan nafsu seksual, walaupun nafsu seksual juga adalah hal yang alami. Dua sejoli yang sedang dilanda eros akan mabuk kepayang. Tidak terbersit di pikiran mereka tentang seksualitas. Mereka terlalu sibuk mengagumi satu dengan yang lainnya. Lagu yang berbicara “hanya dengan menatapmu saja aku bahagia” memang sungguh-sungguh nyata. Orang yang sedang kasmaran akan betah berlama-lama saling pandang, bahkan sekalipun tak sepatah kata pun terucap. Luar biasanya, kasih jenis ini punya efek seperti obat bius yang membuat orang bisa bertahan menghadapi rasa sakit. Orang yang sedang jatuh cinta rela menderita demi cinta. Penderitaan itu bahkan membuat mereka merasa seolah menjadi martir. Maka tidak mengherankan jika kita melihat dan mendengar kisah asmara yang mendapat perlawanan, namun sepasang sejoli itu tetap akan tetap memperjuangkan cinta mereka. Semakin mendapat tantangan, perasaan seperti martir itu semakin kuat. Ia (eros) sangat dipuja sejak abad pertengahan, dan mungkin sampai sekarang. Lihat saja bagaimana rekaman lagu-lagu cinta romantis muncul setiap pekan, coba bandingkan dengan lagu cinta lainnya, seperti: persahabatan, kasih keluarga, dan cinta tanah air. Lihat pula cerita yang bertemakan cinta romantis menjadi film dan sinetron yang banyak diproduksi. Namun eros yang sangat dipuja bisa sangat membahayakan, karena ia bisa terdengar seperti suara dari kekekalan, suara dari sorga.

Cinta (eros) tidak akan jadi setan, selama ia tidak jadi tuhan. Saat manusia begitu mengagungkan eros, saat itulah dia sedang berurusan dengan sesuatu yang sangat berbahaya. Karena ketika eros sudah jadi tuhan, maka dengan segera ia akan berubah menjadi setan yang akan menghancurkan kita. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Ketika eros sudah menjadi tuhan, maka ia ada diatas kasih-kasih yang lain. Ia akan mengabaikan suara sahabat bahkan keluarga kita. Ia akan berdalih bahwa sahabat dan keluarga kita tidak merasakan apa yang ia rasakan. Memang kasih itu sabar menanggung segala sesuatu, menutupi segala sesuatu, memperdamaikan perbedaan, namun ada satu perbedaan yang tidak bisa diperdamaikan atau dikompromikan. Ketika eros berupaya mengkompromikan hal yang tidak terdamaikan, ia bisa menghalalkan segala cara. Anak muda, dalam urusan eros, jangan pernah berusaha mengkompromikan satu perbedaan yang tidak bisa diperdamaikan. Semua perbedaan bisa diperdamaikan kecuali satu hal ini, dan menurut saya, pembaca yang budiman mengerti perbedaan yang saya maksudkan.

Baiklah, kita telah membahas sejarah hari Valentine dan sedikit tentang cinta romantis. Cinta romantis ini sungguh manis, namun juga berbahaya jika kita tak mampu mengendalikannya. Cinta romantis perlu penyeimbang, bahkan menurut saya perlu pendahuluan. Pendahuluan yang saya maksudkan adalah jenis-jenis kasih yang lain. Karena untuk mengendalikan eros, kita butuh kasih-kasih yang lain, maka sebelum mengenal eros semestinya kita mengenal kasih-kasih yang lain itu. Ada persaudaraan, pertemanan, persahabatan, cinta tanah air, dan lain sebagainya. Hal-hal ini jika kita hidupi dengan baik sungguh membuat kita memiliki pendahuluan yang baik sebelum mengenal eros. Pembahasan tentang jenis kasih yang lain akan dilakukan di tulisan-tulisan mendatang (tanggungan tulisan bersambung saya makin bertambah). Eros, paling ramah jika dinikmati dalam pernikahan, maka itu jalinlah eros jika memang kita telah siap memasuki suatu hubungan yang menuju pernikahan.

Akhirnya, terutama dari semua jenis kasih, adalah kasih kepada Tuhan, Sang Pencipta. Dialah sumber yang akan memuaskan dahaga kita akan kasih sayang sejati. Tidak sedikit orang lari kepada eros karena tidak mendapat kasih keluarga, teman-teman, ataupun lingkungan sekitar. Kasih yang diberikan Tuhan bukan hanya akan memuaskan dahaga kita, tapi juga akan mengalir keluar melalui hidup kita kepada orang-orang di sekitar kita. Bahkan kepada orang-orang yang tadinya kita harapkan akan mengasihi kita lebih dahulu, kasih yang mengalir dari dalam diri kita memampukan kita untuk mengasihi mereka terlebih dahulu. Kasih kepada Tuhan mempu membuat siapapun menjadi martir bagi-Nya, seperti Santo Valentinus. Dan selama Tuhan tetap menjadi Tuhan dalam hidup kita, eros tidak akan jadi setan. Semoga pesan hari Valentine yang sesungguhnya dapat menyentuh sanubari kita dan membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik.

Selamat hari kasih sayang.

Thursday, January 31, 2013

Kembali kepada Kasih yang Semula

Sebagai orang percaya tentu kita sangat familiar dengan kata 'kasih'. Pertama kali kita berjumpa dengan Pribadi terkasih adalah momen yang tidak akan terlupa. Sukacita itu, kedamaian itu, ketulusan itu, dan keindahan cinta pertama akan terus melekat dalam ingatan kita. Perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi itu tak sanggup dibandingkan dengan perjumpaan-perjumpaan lainnya dalam hidup kita, bahkan dengan orang yang paling kita harapkan.

Seiring dengan berjalannya waktu, ada hal-hal terjadi. Pengajaran, pelayanan, pekerjaan-pekerjaan baik lainnya mulai kita geluti. Hingga pada kondisi tertentu kita sangat paham tentang pengajaran. Nah, di tahun-tahun berikutnya kita mungkin jadi sangat ahli dalam mengerjakan 'pekerjaan Tuhan' di dunia.

Namun Tuhan mengingatkan kita, gereja-Nya akan bahaya yang mengintai dan mungkin telah merasuki diri kita. Kisahnya tergambar melalui wahyu kepada jemaat Efesus.

Wahyu 2:2-3

Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.
Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.


Wow, disini kita lihat bahwa jemaat Efesus begitu luar biasa dalam soal pengajaran. Terbukti lewat bagaimana mereka bisa menguji rasul gadungan. Bukan hanya itu, mereka juga tekun dan pekerja keras. Kalau diproyeksikan pada jaman sekarang, barangkali jemaat Efesus ini adalah jemaat yang selalu aktif dalam pekerjaan pelayanan. Sangat mungkin semua anggotanya terlibat dalam pekerjaan pelayanan. Mereka bertekun. Bukankah kualitas seperti ini akan membuat kita berkata 'wow!'. Belum berhenti sampai disini, dikatakan juga bahwa mereka juga sabar dan mengalami penderitaan karena nama Tuhan. Dalam penderitaan itupun mereka tidak lelah. Sangat mungkin juga tidak bersungut-sungut. Saya sungguh mengakatan 'wow' untuk hal-hal itu.


Wahyu 2:4
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.

Jdeeeeerrr. Ternyata dibalik semua kualitas yang dipaparkan sebelumnya, terdapat satu kesalahan fatal yaitu, meninggalkan kasih yang semula. Kasih yang semula, cinta mula-mula, atau cinta pertama, sudah saya bahas dia awal tadi. Pengalaman pribadi itu begitu luar biasa sehingga kita pasti tidak akan mau menukarnya dengan apapun. Namun kesibukan, serta hal-hal lahiriah lainnya, bahkan yang tampak rohani sekalipun dapat membuat kita beranjak meninggalkannya. Meninggalkannya, inilah yang terjadi. Dan ada hal aneh ketika saya mendengar orang berkotbah, bersaksi atau membaca tulisan orang tentang kasih mula-mula, bahwa mereka berdoa meminta kasih itu dikembalikan lagi kepada mereka. Disadari atau tidak, hal ini menempatkan posisi kasih mula-mula sebagai 'sesuatu yang terhilang/terambil' dari kita, padahal kenyataannya kita lah yang meninggalkannya. Kasih itu tidak dicuri oleh iblis, tapi kita yang meninggalkannya(bagi yang selalu menyalahkan iblis untuk setiap kesalahan diri sendiri silahkan merenung). Kita mungkin meninggalkannya bukan untuk sesuatu hal yang sama sekali tidak berguna. Mungkin kita meninggalkannya untuk kegiatan-kegiatan baik. Dan apapun alasannya, kenyataannya adalah kita meninggalkan kasih yang semula.

Wahyu 2:5

Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.


Meninggalkan kasih mula-mula adalah sebuah kejatuhan, dosa, dan tidak dapat ditoleransi. Ia sama dengan dosa-dosa lainnya yang mendatangkan hukuman. Satu-satunya tindakan yang harus diambil dalam kondisi ini adalah bertobat. Bertobat bicara tentang mengambil jalan berputar yang paling jauh, tapi itulah jalan pulang yang paling dekat(pinjam istilah C.S. Lewis). Ya, kita harus berputar, menyisir jalan menuju kasih semula yang kita tinggalkan di suatu tempat. Mungkin dalam perjalanan kembali itu ada air mata, dan perlu upaya. Bertobat melibatkan pola pikir, dan pola pikir kita harus dikembalikan supaya melangkah menuju arah yang benar. Dan apakah yang terjadi jika kita tidak mengambil jalan berputar dan berjalan menuju kasih semula itu? Kaki dian akan diambil dari kita. Apa itu kaki dian? Hal paling sederhana yang bisa kita simpulan adalah bahwa kaki dian menandakan terang(beberapa orang akan menghubungkan dengan urapan, namun disini saya lebih sepakat bahwa ia berbicara tentang terang). Kita bisa bayangkan jika terang diambil dari kita. Tentu saja hal itu terlalu mengerikan untuk dibayangkan. Dan saya percaya kita tidak telalu bodoh dan bebal untuk memutuskan jalan yang harus ditempuh.

Pembaca yang budiman, firman Tuhan telah mengingatkan kita tentang hal ini hampir 2000 tahun yang lalu. Mari periksa diri kita. Adakah kita telah meninggalkan kasih yang semula? Entah telah jauh atau masih dekat kita meninggalkannya. Mari berbalik, bertobat, kembali kepada kasih yang semula kepada Tuhan. Nikmati kembali sukacitanya, kedamaiannya, kerinduannya, keintimannya, dan pengalaman pribadi yang hanya milik kita dan Tuhan.

Tuesday, January 29, 2013

Pasangan Hidup (bag 1)

Seperti janji saya sebelumnya, kali ini saya akan bahas tentang pasangan hidup (bagian pertama). Pertanyaan yang muncul di tulisan sebelumnya akan terjawab setelah kita memahami konsep berpasangan yang benar. Saya lebih suka pakai istilah pasangan daripada pacaran, karena memang istilah pacaran tidak alkitabiah, selain itu juga lebih banyak terdistorsi/tercemar oleh prinsip duniawi. Sebenarnya tidak semua hal yang tidak alkibabiah itu salah. Jadi jangan salah paham tentang hal ini.

Baiklah mari kita mulai kisahnya. Saya akan memberikan latar belakang yang indah dan sempurna mengenai kehidupan berpasangan. Kisah ini di mulai di taman yang indah. Tidak ada dosa, semuanya baik dan sungguh amat baik.

Kejadian 2:18

TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Mari kita tengok kalimat pertama dari pernyataan Tuhan, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja”. Apa yang kita lihat disini adalah untuk pertama kalinya Tuhan mengucapkan kata “tidak baik”. Mohon dipahami bahwa peristiwa ini terjadi sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Tidak baik dalam konteks ini bukan berarti jahat, juga bukan aib. Tidak baik adalah tidak baik, sejauh yang dipahami dalam konteks sebelum kejatuhan.

Dengan kata lain, kalimat pertama ini bisa juga berbunyi, “sebaiknya manusia itu tidak seorang diri saja”. Nah, saya akan memberikan contoh kalimat yang senada, misalnya: “Sebaiknya kamu tidak lupa membawa mantel di jok motor untuk berjaga-jaga jika turun hujan”. Apakah salah jika seseorang mengendarai motor tanpa membawa mantel hujan? Tentu tidak. Namun jika hujan memang turun, tidak membawa mantel adalah sebuah pilihan yang tidak bijaksana, karena kita tahu mantel membantu menjaga tubuh agar tidak basah terkena air hujan. Dengan demikian kita tahu bahwa berpasangan atau tidak, tidak mengurangi nilai diri manusia.

Berikutnya kita akan cermati kalimat kedua yang diucapkan Tuhan, “Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Dalam kondisi seorang diri (sendirian namun tidak kesepian), Tuhan mengetahui bahwa yang diperlukan oleh manusia (Adam) adalah penolong. Lihatlah, sungguh luar biasa bahwa inisiatif untuk menjadikan penolong bagi Adam datangnya dari Tuhan. Dalam hubungan berpasangan Tuhan lah yang berinisisatif, bukan manusia. Jadi, mari periksa hati kita. Adakah kita mulai mengambil bagian yang seharusnya milik Tuhan dan meninggalkan bagian yang seharusnya milik kita?

Apakah bagian yang seharusnya milik kita? Cerita ini akan bersambung, jadi tolong sabar menunggu bagian berikutnya. Berinisiatif tentang kehidupan berpasangan adalah bagian Tuhan, kita memiliki bagian sendiri yang harusnya kita kerjakan. Apa yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Kita mengambil alih bagian Tuhan dan meletakkan bagian yang seharusnya kita kerjakan. Tuhan tahu manusia(Adam) butuh penolong. Dan lebih dari itu, Tuhan akan menjadikan penolong baginya. Yang luar biasa, penolong yang dari Tuhan itu sepadan dengannya. Saya akan berikan ulasan singkat tentang kata sepadan.

Dalam bahasa asli ditulis (Strong Hebrew Dictionary):

נגד
neged
neh'-ghed
a front, that is, part opposite; specifically a counterpart, or mate; usually (adverbially, especially with preposition) over against or before: - about, (over) against, X aloof, X far (off), X from, over, presence, X other side, sight, X to view.

Kalau saya terjemahkan secara bebas akan berbunyi demikian, Aku akan menjadikan penolong baginya, yang itu adalah pasangannya(sehingga mereka disebut pasangan). Nah, gambaran mengenai sepadan itulah pasangan. Sebagai contoh: steker dan stop kontak, jack male dan female, puzzle satu dan lainnya yang bersebelahan. Satu ciri yang sangat mencolok dari semua contoh itu adalah pasangan itu sudah pasti berbeda, namun justru karena berbeda itulah mereka bisa besesuaian. Itu sebabnya pasangan hidup bagi pria pastilah bukan pria, karena pria dengan pria bukan sepadan, namun sama. Namun sepadan juga bukan antara potongan puzzle dengan steker, karena mereka tidak bisa bersesuaian. Kalau ada manusia yang nekat ingin berpasangan dengan yang tidak satu spesies, sungguh keterlaluan. Maka, sepadan dalam konteks kejadian ini adalah pasangan, yakni perempuan yang kemudian dinamai Hawa oleh manusia(Adam) itu. Apakah sesederhana itu pemahaman tentang sepadan? Dalam konteks pra kejatuhan, iya. Karena semua pria dan wanita yang lahir dalam gambar dan rupa Allah yang utuh tak perlu diseleksi lagi kualitasnya. Kualitas sepadan kemudian didefinisikan lebih detail setelah manusia jatuh dalam dosa. Ayat yang banyak dipakai para pengkotbah untuk mendefinisikan kualitas yang diambil dari surat Korintus pun tidak menggunakan kata sepadan, namun seimbang. Jadi menurut saya, sepadan memiliki makna satu spesies yang berbeda gender dan memiliki(paling tidak berjalan menuju pencapaian) kualitas seperti manusia pada masa sebelum kejatuhan.


Kisah ini masih berlanjut. Masih ada pertanyaan yang ditinggalkan oleh bagian pertama ini, apakah yang menjadi bagian manusia jika inisiatif adalah bagian Tuhan? Silahkan menunggu.

Friday, January 4, 2013

Inilah Alasan Saya Tidak Mudah Galau Semasa SMA

Saya adalah pribadi dengan kombinasi sempurna untuk menjadi galauers sejati. Bayangkan saja, secara tempramen saya tergolong Melankolis-Flegmatis. Baru-baru ini waktu belajar fingerprint analysis, diketahui bahwa kesepuluh jari saya berpola "loop". Sang analis(sebut saja Yoshua) berkata bahwa orang dengan ciri seperti saya sulit bertahan dalam komunitas. Secara umum orang dengan pola loop dikendalikan oleh perasaan(CMIIW). Padahal perasaan yang tidak terkendali seringkali justru menyesatkan.

Bisa dikatakan salah satu alasan saya menulis ini adalah karena sepet lihat ABG a.k.a anak SMA yang hari-harinya diisi dengan kegalauan. Dan menurut pengamatan saya, penyebab kegalauan itu berputar pada hal-hal berikut:
1. Cowok/cewek (asmara)
2. Pelajaran (tugas, ujian, dll)
3. Pertemanan/persahabatan
Dan sepengetahuan saya, no 1 menempati urutan pertama dengan jumlah kasus terbanyak. Menurut pengamatan saya di jejaring sosial, curhatan ABG tentang topik yang mereka sebut cinta mengambil prosi > 50% dari total update status mereka(ahli statistik boleh menggugat).

Ok, saya hanya akan bahas no 1 saja, karena galau yang disebabkan oleh no 2 dan 3 cenderung lebih mudah untuk dihadapi dan dikuasai. Lagipula saya menganggap bahwa galau karena no 2 dan 3 itu sangat wajar, tapi untuk no 1 menurut saya tidak wajar. Bagi yang tidak mau meneruskan membaca silahkan berhenti sampai disini. Mengapa saya katakan demikian? Karena belum waktunya anak SMA menikmati cinta(asmara). Penjelasannya secara lengkap akan saya ungkap pada tulisan mendatang.

Baiklah, semasa SMA saya bukannya maho yang tidak demen lihat cewek cantik. Saya cowok normal yang tertarik pada cewek. Dari lahir saya adalah cowok dan seumur hidup akan tetap jadi cowok yang naluri normalnya suka dengan lawan jenis.
Apakah saya pernah suka dengan seorang cewek semasa SMA? Ya.
Apakah saya berusaha mendekati cewek yang saya sukai/yang kepadanya saya tertarik? Tidak.
Apakah saya kadang memikirkannya? Ya.
Apakah saya galau saat memikirkannya? Sulit untuk berkata tidak sama sekali, tapi saya katakan hampir tidak pernah.
Apakah saya menikmati hidup yang seperti itu? Ya, sangat menikmati.
Apakah itu bukan tergolong membohongi hati nurani? Bukan, itu tindakan ketaatan. Dan hati nurani yang murni selaras dengan ketaatan.

Bagaimana bisa saya melakukannya?

Nah, saya akan berbagi mengapa saya bisa tidak ikut arus pengejaran asmara di saat tak tepat.
Pertama,
Saya terlalu sibuk. Semasa SMA saya menginvestasikan waktu pada hal-hal yang membangun karakter diri sendiri dan orang lain. Coba bayangkan, sebagai pelajar fokus dan tujuan utama kita adalah belajar. Hal ini saja sudah menyita waktu, perhatian, dan tenaga. Selama SMA, saya belajar mencintai semua mata pelajaran, pasti ini lebih sulit daripada mencintai seorang cewek, hehehe. Di rumah, saya juga sibuk sebagai seorang anak sulung bagi orangtua, dan seorang kakak bagi kedua adik saya yang cantik. Tanggungjawab untuk membantu adik yang sulit dalam pelajaran juga tidak mudah. Si bungsu sangat kritis dan perfeksionis, sehingga saya harus sangat berhati-hati menerangkan pelajaran kepadanya. Di sekolah, saya punya saudara-saudara dimana saya juga bertanggungjawab untuk saling membangun. Dengan kesibukan-kesibukan ini, kira-kira adakah waktu untuk saya meratapi nasib karena tidak bahagia lantaran tidak punya pacar?
Kedua,
Saya tinggal dalam komunitas dimana saya tertanam, bertumbuh, dan berbuah bersama. Seseorang adik rohani pernah berkata, "arti sebuah komunitas sangat terasa ketika kita sendirian". Komunitas selalu membuat saya tak sanggup menyembunyikan diri. Karena kami bertumbuh dalam nilai keluarga. Saling percaya, saling menopang, saling menguatkan, saling terbuka. Bahkan seandainya saya galau sekalipun, saya tahu kemana harus bercerita. Dan saya tahu, saya bercerita pada orang-orang yang tepat.

Demikianlah cerita singkat yang bisa saya bagikan kepada pembaca yang budiman. Secuil kisah dari masa SMA. Semoga bermanfaat.

Wednesday, October 31, 2012

Menunjuk Kemunafikan Diri

Ada hal yang cukup menggelitik tentang apa yang (katanya) diinginkan manusia, dengan apa yang sesungguhnya diinginkannya. Karena saya berkecimpung di dunia media, maka saya akan beri contoh di dunia media televisi. Pada beberapa survey, pertanyaan tentang tayangan yang diinginkan untuk ditingkatkan durasi atau jumlah programnya, maka paling banyak jawabnya adalah tayangan yang mendidik. Tapi kalau kita lihat hasil rating, ternyata tayangan dengan rating tertinggi adalah sinetron (dengan segala nilai yang disuguhkannya). Apakah ini kontradiktif?

Ternyata apa yang diucapkan mulut seringkali tidak sesuai dengan yang dilakukan. Ada ketidaksinkronan yang sungguh tidak sepele. Mari kita akui kenyataan ini, bahwa kita ternyata bersikap munafik dalam beberapa hal. Kita telah lihai dalam berbohong sekalipun tidak pernah diajari dimanapun. Sebagai rakyat jelata, tidak jarang kita meneriaki para birokrat yang korup, tanpa sadar bahwa kita pun tidak kalah korup dibanding mereka.

Ada satu quote yang cukup terkenal, "Kita menilai orang lain berdasarkan apa adanya dia, sedangkan menilai diri sendiri berdasarkan apa yang kita harapkan tentang diri kita". Tampaknya hal ini banyak terbukti di keseharian kita.

Pembaca yang budiman, untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik diperlukan keteladanan. Bukan dengan menunjuk muka orang lain, padahal kita belum melakukan kebenaran tentang nilai yang dimaksud. Tindakan menuntut memang menyenangkan bahkan mungkin menciptakan semacam perasaan puas. Ya, seberapa besar kita merasa kesenangan dalam hal menunjuk, menuntut, dan melihat orang lain jatuh, dibandingkan kesenangan memuji, mendorong, dan melihat orang lain berhasil? Silahkan direnungkan sendiri.

Dan kata itulah yang tidak mudah untuk dijalani, keteladanan. Keteladanan dimulai dari menanggalkan pola pikir yang salah, dan mengenakan pola pikir yang benar. Keteladanan dibangun dengan upaya keras, disiplin, dan keseriusan. Oh, sungguh mudah mengucapkannya, namun tak mudah menjalaninya. Namun, demi masa depan yang lebih baik, demi kota yang dipulihkan, demi bangsa yang menikmati kemakmuran, mari kita mulai melangkah. Melangkah dan bergandengan tangan, karena pembaca yang budiman tidak sendirian.

@ruang berukuran 3x4 m