Pages

Tuesday, December 17, 2013

Sedikit Lagi Tentang Identitas

Salam jumpa kembali para pembaca yang budiman. Sesungguhnya ada banyak pemikiran yang ingin saya tuangkan dalam tulisan, namun beberapa hari ini ada kendala untuk melakukannya. Seperti para pembaca ketahui, laptop saya sudah sangat tua renta. Sedangkan baru-baru ini ponsel yang selalu saya gunakan untuk blogging sejak Februari 2012 sekarang sedang ngambek. Nah, kebetulan ada komputer yang sedang nganggur (bukan milik pribadi), jadi sikat saja.

Beberapa waktu lalu saya tiba-tiba teringat teman semasa SMA yang bernama Jilly (nama sebenarnya). Dia salah satu teman baik sejak SMA yang punya ciri unik yang sangat saya kagumi yaitu rambutnya yang keriting seperti Maria Belen (tokoh telenovela jaman dulu). Belakangan saya tahu (dari profile picture YM dan Facebook) kalau rambutnya sudah jadi brekele alias lurus. Saya cukup terkejut dengan perubahan penampilannya, karena menurut saya dia lebih cocok dengan rambut kerititng. Perlu pembaca ketahui, saya termasuk pengagum para manusia berambut keriting alami (saya punya senior waktu kuliah yang rambut keritingnya keren sekali, namanya mas Paksi). Karena penasaran, maka saya bertanya siapa yang membuat dia jadi begitu. Menurut saya suaminya tidak mungkin melakukannya. Langsung saja saya tembak, "Itu tuntutan/permintaan kantor ya?", dia pun menjawab, "hehehehe".
 
Mungkin bagi perusahaan tempat teman saya bekerja, rambut lurus dianggap lebih baik, atau setidaknya lebih rapih dibanding rambut keriting. Sehingga rambut lurus menjadi sebuah syarat dan ketentuan yang harus dimiliki karyawan. Disinilah sebuah standar estetika ditentukan oleh manusia yang bagi saya tidak bisa berlaku universal. Semua kombinasi fisik yang kita miliki sesungguhnya adalah yang terbaik bagi kita. Memodifikasinya dengan alasan estetika semata menurut saya sebuah langkah yang kurang bijaksana. Pada tahun 80-90 an, rambut keriting menjadi trend di kalangan selebritis. Banyak orang memodifikasi rambut mereka supaya tampak seperti artis idolanya. Sekarang ketika K-Pop mendunia (setidaknya mengindonesia), banyak orang meluruskan rambut dan memutihkan kulit. Siapa yang sangat diuntungkan dengan keadaan ini? tentu saja industri modifikasi penampilan fisik.

Setiap pribadi itu unik. Dan keuinikan itulah yang membuat kita istimewa. Maka banggalah dengan keunikan yang kita miliki. Kecuali untuk tujuan memperbaiki kualitas hidup atau kesehatan (misalnya operasi bibir sumbing), memodifikasi penampilan fisik justru mencederai kaunikan yang sudah diletakkan oleh Sang Pencipta pada kita. Mari dengan percaya diri kita menampilkan keunikan itu. Tentu saja keunikan itu perlu dirawat dengan baik. Tampil apa adanya bukan berarti tidak merawat tubuh kita dengan baik. Salah satu cara terbaik untuk menyatakan syukur atas keadaan kita adalah dengan merawat tubuh kita dengan baik.

Pembaca boleh sepakat atau tidak dengan pendapat saya. Saya hanya ingin membagi sedikit pandangan saya tentang identitas fisik yang telah sejak semula melekat pada diri kita. Di dunia ini tidak ada salah satu ras yang lebih elok penampilannya daripada yang lainnya. Semuanya adalah soal estetika yang manusia juga yang menilainya. Dan penilaian ini tidak mutlak benar dan tetap. Seiring berjalannya waktu selera bisa berubah, namun ketetapan Tuhan bahwa manusia diciptakan "baik adanya" berlaku untuk seluruh umat manusia di segala jaman. Mari miliki percaya diri saat bertemu manusia jenis apapun. Hormati dan kasihi sesama kita dengan kapasitas yang sama tanpa memandang ciri fisiknya. Karena bagaimanapun juga semua manusia adalah satu spesies yang sama.

0 comments: