Pages

Sunday, December 14, 2014

Kembali Menjadi Goweser

Salam jumpa pembaca yang budiman. Sudah lama saya tidak berbagi cerita di blog ini. Harap maklum karena memang saya sedang sok sibuk, sekaligus malas mengetik di layar ponsel yang tergolong kecil. Namun, sekarang saya akan memuaskan dahaga para pengunjung setia blog ini yang cuma beberapa gelintir.

Baiklah, saya ada kabar baik. Setelah belasan tahun vaccum dari dunia pergowesan, kini saya kembali menjadi ksatria pengayuh pedal sepeda. Bulan lalu saya membeli sepeda gunung (MTB) setelah menabung sekian lama. Tujuannya sederhana, mau bike2work-an alias bersepeda ke kantor. Sebenarnya ini cuma modus cari variasi olahraga setelah lebih dari setahun cuma ber-jogging dan nge-HIIT. Selain itu, sekarang saya merasakan manfaat tambahan, yaitu menghemat pengeluaran uang bensin. Hehehe.

Jarak rumah ke kantor tidak terlalu jauh. Waktu tempuh dari Banyu Urip ke Sambisari  juga tidak terpaut jauh, sama-sama sekitar 30 menit, mungkin kalau pakai sepeda motor bisa ditempuh 5 menit lebih cepat. Selain itu, rute yang dilewati berada di pinggiran kota yang berarti saya tidak akan berhadapan dengan kemacetan dan polusi tengah kota Surabaya. Namun, ada hal yang cukup membuat saya terengah-engah yakni medan yang menanjak selama perjalanan. Perlu diketahui bahwa saya bekerja di salah satu stasuin TV swasta, dan sudah menjadi keharusan bahwa pemancar TV diletakkan di kawasan tertinggi di kota tersebut (alasan fisika yang kalau saya jelaskan akan memusingkan pembaca yang tidak suka fisika).

Bagi seorang goweser, tanjakan adalah tantangan. Medan yang dulunya dengan mudah dilibas menggunakan motor kini harus ditaklukkan dengan susah payah ketika mengayuh sepeda. Beberapa teknik menaklukan tanjakan pun diterapkan, namun di ujung tanjakan kaki tetap terasa payah. Pada hari pertama, kaki terasa pegal ketika sampai di kantor. Tapi itu hanya terasa beberapa menit saja, karena setelah keringat berhenti bercucuran, saya segera mandi. Kesegaran begitu terasa usai mandi, dan badan menjadi lebih bertenaga saat memulai pekerjaan (saya pakai kaos oblong & celana pendek saat berangkat, bawa baju untuk kerja di ransel). Setelah terbiasa melewati tanjakan, kaki pun semakin kuat. Tidak lagi terasa pegal ketika sampai di kantor.

Saya sungguh bersyukur karena tidak lama setelah beli sepeda, pemerintah mengumumkan kenaikan BBM. Bahan bakar meluncur ke kantor yang dulunya dua liter bensin kini cuma satu liter air putih. Hal yang sangat menggembirakan dari bike2work adalah, dapat iritnya, dapat sehatnya. FYI, setelah saya bike2work-an, beberapa teman kantor terprovokasi dan mulai teracuni untuk bergowes ke kantor. Hahaha.

Apakah pembaca yang budiman juga mulai teracuni setelah baca tulisan ini? Atau anda juga seorang goweser? Yuk budayakan hidup sehat.

Thursday, November 20, 2014

Aku bukan "penasihat", aku saudaramu

Saudaraku, kutulis ini karena aku mengasihimu. Kadang ketika kubuka jejaring sosial ini, kulihat apa yang kau tulis dihalamanmu. Dari situlah aku mendapat gambaran tentang apa yang kau alami. Saat kau ucapkan syukur, akupun gembira. Karena kutahu kau sedang ada dalam proses yang benar. Namun kadang keadaanmu sedang galau. Dan galau yang kau alami, seharusnya tak kau alami jika kau tak mengijinkan kegalauan itu merasukimu.
 
Saudaraku, karena kasihku kepadamu kutulis ini. Ijinkanlah kukutip nasihat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma
Roma 12:3 
Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
 
Kadang, bahkan seringkali, kegalauan yang terjadi disebabkan karena engkau memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari yang patut kau pikirkan. Dan pada gilirannya pikiran itu menjeratmu, berputar-putar disana, kau tersiksa karena dia sudah mulai menyeruak ke perasaanmu. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika perasaan itu sudah mulai terlukai karena pikiran yang terlalu tinggi tadi telah menjelma menjadi keinginan, bahkan obsesi. Keinginan yang tak kau temui kenyataannya. Saudaraku, janganlah menikmati siksaan itu.
 
Dan saudaraku, saat kegalauanmu terlayangkan ke arena jejaring sosial, maka sesungguhnya kau menyuguhkannya di depan banyak orang. Sadar atau tidak, kau kehendaki atau tidak, itu akan mengundang "nasihat" dari berbagai pihak. Dan tentang hal ini aku mengaku bahwa aku galau. Galau jika kegalauanmu berbuah "nasihat" yang tidak berdasarkan firman. Saudaraku, di dunia ini banyak pemikir-pemikir yang pandai memberi nasihat dengan segala paham yang dianutnya. Tak jarang kau bisa temui "penasihat" yang memberi kata-kata yang "sepertinya baik", namun sesungguhnya sangat tidak sesuai firman. Oleh karena itu, temuilah penasihat yang memegang prinsip firman tatkala kau galau dan ingin menumpahkan kegalauanmu.
 
Saudaraku, ingatkah kau tentang apa yang pernah dikatakan tentangmu? Kau adalah pejuang dan pemimpin masa depan negeri ini. Seorang calon pemimpin adalah seorang yang mau belajar untuk memiliki hati pemimpin. Pemimpin sejati tidak pusing dengan urusannya sendiri, tapi belajar memahami kebutuhan orang lain. Jangan bertanya tentang siapa yang akan memikirkan kebutuhan kita, karena kebutuhan kita telah dipersiapkan oleh Sang Sumber. Dia, bukan hanya memikirkan kebutuhanmu, tapi juga menyediakannya. Bagian kita adalah saling mengasihi dan memperhatikan sesama. Mengerjakan setiap tanggungjawab yang dipercayakan atas kita tanpa menutup mata terhadap kebutuhan sesama adalah hal yang indah.
 
Amsal 19:20
Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.
 
Aku menulis ini karena engkau saudaraku, dan aku mengasihimu.
- from galauers to jempolers -

*ini adalah catatan yang pernah saya publikasikan di facebook beberapa tahun lalu.

Tuesday, August 12, 2014

Menikmati Jerih Lelah

Pkh 3:13
Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.

Tidak sedikit orang bergelimang harta namun tak sanggup menikmatinya. Hutang yg berlinang, sakit yg membelit, membuat hasil jerih lelah seolah meleleh begitu saja.

Mari bersyukur bahwa Tuhan memberi karunia untuk menikmati hasil usaha kita. Jangan biarkan diri kita menjadi pengejar materi, tapi marilah kita menjadi pengejar kekudusan.

Mari berhenti membandingkan pencapaian diri dengan orang lain, tapi bandingkanlah diri kita hari ini dengan kemarin, itulah yang disebut progress.

Kehidupan ini kadang seperti sungai. Di mana kita bersumber, dari situlah kita bertolak. Ke mana kita bermuara, ke sanalah kita berlabuh. Namun, kehidupan jasmani saja lah yang mengikuti pola ini. Sementara, roh manusia berasal dan bermuara kepada Penciptanya.

Mari kembali ke jalan yang seharusnya kita tempuh. Pengejaran sia-sia akan membawa kita kepada hasil yang sia-sia. Larut dalam kemelut akan membuat kita semakin tersudut dan keluar dengan tubuh penuh parut.

Motivasi yang benar dapat mengarahkan kita ke kehidupan yang benar. Kerap kali kita mendengar orang berkata, "Aku bekerja keras untuk keluarga!". Sekilas terasa baik. Namun, di balik itu terkandung bahaya besar. Bagaimana jika keluarga itu diambil dari padanya? Bukankah motivasi bekerjanya juga akan terambil? Oleh karena itu, mari kita bekerja bukan untuk manusia, karena manusia fana adanya. Tapi bekerjalah untuk Tuhan yang kekal.

Tetapi bukankah Tuhan yang kekal itu adalah pemilik seluruh alam semesta beserta kekayaannya? Lantas apa pemberian yang bisa membuat-Nya bahagia? Bukan pemberian, namun hati yang memberi, itulah yang menyenangkan-Nya. Saat kita mengerjakan segala sesuatu dengan motivasi untuk menyenangkan Tuhan, di sanalah kita memberi persembahan yang hidup.

Berbahagialah kita yang menyadari hal yang tampak sepele ini. Namun, hal-hal yang sepele seringkali justru menjadi penentu. Lebih berbahagia lagi orang yang menghidupinya. Karena pengetahuan hanya memuaskan intelektualitas kita, namun ketaatan memuaskan Tuhan.

Semoga perenungan ini bermanfaat.

Friday, August 1, 2014

Cerita di Balik Fakta

Cerita di balik fakta, seringkali hanya opini belaka. Para perekayasa cerita pandai merangkai kata yang menarik untuk dibaca. Fakta yang tersalut cerita ini kemudian berhembus sebagai berita. Sehingga, bukan hiburan yang timbul, tapi kekacauan yang mengepul.

Di sinilah kejelian kita diuji untuk mengenali dan memilah bagian mana yang fakta dan mana yang opini. Kita berbekal nalar yang melekat pada setiap makhluk yang tergolong manusia. Masalahnya, kadangkala nalar ini jarang kita gunakan karena malas. Kemalasan telah menumpulkan nalar, sehingga sebagian orang hanya ingin gampangnya saja. Dalam berbagai hal, kita jumpai seruan kemalasan ini. "Intinya apa? Cara mudahnya bagaimana?" adalah pertanyaan yang menyiratkan keengganan kita untuk bernalar.

Jika sesuatu yang disebut berita tenyata hanya berisi opini, layaklah kita menikmatinya sebagai cerita yang menghibur. Hiburan belaka, bukan berita. Nikmatilah hiburan sebagai hiburan, tanpa perlu tersulut amarah. Jika ada yang menyebarkannya sebagai berita, kita cukup tersenyum sambil memberikan penjelasan seperlunya.

Menafsirkan fakta itu sah-sah saja. Namun, kita seringkali sulit menyadari batasan penafsiran seperti apa yang dikatakan terlalu jauh. Penafsiran yang terlalu jauh bisa menjurus ke fitnah yang keji. Percayakah anda bahwa fitnah lebih kejam dari pembunuhan? Ya, saya percaya. Mari kita berpikir, menyebarkan fitnah tak ubahnya membunuh karakter seseorang di depan orang lain. Seseorang yang gambaran karakternya telah rusak secara alamiah akan ditolak oleh penerima fitnah tersebut. Karakternya telah dibunuh, telah tumbang, telah mati, bahkan saat sebenarnya dia masih hidup. Menyakitkan bukan?

Fitnah tidak jauh dari kebencian. Kita mendapati hampir seluruh cerita yang berisi fitnah dapat membangkitkan kebencian. Taukah para pembaca yang budiman bahwa pembenci tak ada bedanya dengan pembunuh? Ketika kita membenci seseorang, kita membunuh karakternya dalam diri kita. Kita akan mencurigai setiap tindakan baik dan menyangka ada maksud buruk di balik tindakan baik orang yang kita benci. Suara kebencian berkata, "Tidak ada yang baik keluar dari perkataan dan tindakan orang itu. Jika ada yang seolah baik, pasti ada maunya, itu palsu!". Dengan menutup mata terhadap semua kebaikan orang yang kita benci, kita telah membunuh kebaikan orang itu dalam diri kita. Bukankah semestinya yang kita bunuh adalah kecurigaan dan ketidakpercayaan kita? Mari merenung dan mengakui bahwa kita juga bukan orang yang tidak punya kesalahan.

Bayangkan betapa indahnya dunia jika kita menjaga diri dari kecerobohan menyebarkan cerita. Saya pernah menulis bahwa kadang apa yang kita sangka benar ternyata tidak benar menurut orang lain. Hal ini bukan berarti kebenaran itu relatif. Tetapi kebenaran itu mutlak dari sudut pandang yang benar. Jika kita memandang kebenaran dari sudut pandang yang salah maka kita akan mendapatkan kesimpulan yang salah.

Akhir kata, marilah melatih nalar kita. Jadilah penyayang, bukan pembenci. Mari membangun kesalingpahaman, bukan kesalahpahaman.

Wednesday, July 23, 2014

Fakta Kasih

Adanya kemiskinan, nestapa, dan kejahatan di bumi adalah fakta yang tidak bisa kita sangkal. Hampir setiap hari kita membacanya di koran, mendengarnya di radio, dan menyaksikannya di TV. Bahkan jika rajin memperhatikan, kita akan mendapati bahwa media menyediakan kolom atau ruang khusus bagi berita semacam itu.

Fakta ini berbicara setidaknya dua hal kepada saya. Pertama, semua itu dialami oleh manusia. Kedua, hampir semuanya itu berasal dari manusia. Manusia mencelakakan manusia, manusia memiskinkan manusia, manusia melahap manusia. Sebuah tragedi yang memilukan karena seingat saya manusia tercipta untuk saling mengasihi dan menolong.

Ada orang yang berkata bahwa ini adalah penyimpangan, penyalagunaan, atau penyangkalan akan tujuan penciptaan manusia. Beberapa yang lain berkomentar kian kemari tanpa solusi. Terlepas dari semua itu, di belahan dunia manapun, selalu muncul orang-orang yang peduli. Saya sering tertegun dan menelan ludah menyaksikan orang-orang yang menolak diam dan menyerah. Kita bisa menemukan mereka di tengah-tengah masyarakat kita. Ketika sebagian orang cuma bisa mencibir, mereka bertindak. Ketika yang lainnya hanya berteriak di jalanan, mereka menyingsingkan lengan baju dan berbuat sesuatu.

Bagi orang-orang ini, kemiskinan, nestapa, dan kejahatan adalah fakta. Namun mereka berbuat untuk merubahnya alih-alih menggerutu. Bagi saya pun berlaku suatu yang saya sebut kebenaran, bahwa sekuat apapun kita berusaha, akan selalu ada orang-orang miskin yang membutuhkan uluran tangan kita. Di dunia yang fana ini, Tuhan telah mengatur bahwa sebagian orang yang berlebih harus berbagi kepada sebagian orang lain yang berkekurangan. Semakin banyak kejahatan justru harus membuat kita terpacu untuk menebar kebaikan. Jika kejahatan menebar kebusukan, mari kita menaburkan bibit bunga kebaikan. Karena saya yakin suatu saat bibit itu akan tumbuh dan berbunga. Saat angin menerpanya, ia melepaskan aroma wangi yang terus dibawa angin itu kemanapun berhembus.

Adanya kemiskinan, nestapa, dan kejahatan semestinya membuat kita makin giat berbuat baik, walaupun kita tidak dapat menghapuskannya sama sekali dari muka bumi. Kita ada untuk saling melengkapi. Manusia ada untuk saling mengasihi. Saya memilih untuk mengasihi sesama, tak peduli asal usul dan sifatnya. Saya memilih untuk melengkapi kekurangan orang lain, tanpa mempertanyakan siapa yang akan melengkapi kekurangan saya. Karena saya percaya, di luar sana ada orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan saya, maka Tuhan akan mempertemukan saya dengan mereka yang akan melengkapi kekurangan saya.

Para pembaca mungkin menganggap saya sedang bermimpi atau berkhayal. Namun, sama seperti nyatanya fakta pahit yang tersaji oleh media, demikianlah nyatanya kasih sayang manis yang menyembuhkan.

Saya memilih bertindak dengan kasih. Bagaimana dengan anda?

Friday, July 18, 2014

Cita-cita Buku Sejarah

Pagi ini, saat pulang kerja, seperti biasa saya melewati sebuah pemakaman. Saat melaluinya tercium bebauan khas. Aroma tanah basah dan semerbak bunga kamboja memberi kesan menyegarkan.

Pemakaman terlewati, dan seketika itu saya teringat bahwa itulah rumah bagi raga jika jiwa berpulang kepada Sang Empunya. Ya, kematian adalah hal paling pasti dari kehidupan yang fana di bumi.

Seketika ingatan saya meluncur pada belasan tahun lalu ketika masih duduk di setelah dasar (SD). Saat SD saya pernah punya cita-cita agar nama saya tertulis di buku sejarah nasional. Terasa cukup lucu jika dipikirkan lagi saat ini.

Sambil tetap berkendara saya berpikir betapa polosnya keinginan saya waktu kecil. Ingin namanya tertulis di buku sejarah tapi tidak terbayang sejarah apa yang dibuat. Maka kemungkinan apapun terbuka untuk mengisinya. Inilah salah satu kekurangan saya(mungkin sebagian orang menganggapnya kelebihan) bahwa saya lebih suka berpikir garis besar daripada spesifik. Kabar baiknya, saya bisa mengisi buku sejarah sebagai siapa dan apa yang mengerjakan apapun, yang di kemudian hari tidak berpotensi membuat malu karena cita-cita spesifiknya meleset. Namun pola pikir itu juga membuat saya menjadi orang dengan kemampuan pas-pasan, merata di beberapa bidang. Bisa ini itu dengan kemampuan yang biasa.

Dengan kemampuan biasa saja ini tentunya sangat sulit bagi saya untuk menorehkan nama di buku sejarah nasional. Karena untuk bisa dikenang secara nasional saya harus punya prestasi spesifik dengan tingkat kemahiran tertentu. Saya bisa melakukan kebaikan yang ultimate, atau justru sebaliknya keburukan yang nyleneh. Dari sini saya menarik dua pelajaran. Pertama, saya perlu menjadi lebih spesifik. Kedua, saya harus meningkatkan level.

Sebenarnya saya sudah tidak terlalu tertarik mengejar cita-cita polos itu. Mungkin karena sampai sekarang belum ada prestasi yang layak membuat nama saya dicetak pada buku sejarah nasional. Namun, saya masih punya keinginan besar untuk berdaya guna bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Memberi warisan teladan bagi generasi berikutnya. Membuat anak cucu saya bangga bahwa mereka dilahirkan dari keturunan orang yang mengabdi pada negeri dengan setia melalui caranya sendiri.

Wednesday, July 16, 2014

Jumpa Pertama

Perjumpaan pertama dengan seseorang bisa memunculkan kesan tertentu. Ada yang sangat terkesan baik, pun juga sangat buruk, ada yang kurang berkesan, dan lainnya justru tidak berkesan sama sekali. Bagi yang sangat berkesan mungkin peristiwa itu masih terekam sampai ke setiap detailnya. Bagi yang sama sekali tidak berkesan, jangankan detailnya, peristiwanya pun mungkin sudah lupa.

Berbicara tentang perjumpaan pertama, pikiran saya segera mengarah kepada perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Cukup banyak terdengar kisah-kisah luar biasa dari pribadi-pribadi yang mengalami perjumpaan pertama dengan Tuhan. Sebagian sangat spektakuler, sebagian cukup spektakuler, dan sebagian lagi terasa biasa. Tetapi apapun nuansa yang terkesan diantara para pemirsa, bagi pelaku pengalaman itu sangat berharga dan mengubahkan.

Bagi saya secara pribadi, perjumpaan pertama dengan Tuhan tidak terjadi secara spektakuler dan gegap gempita. Dia menyapa saya di kamar, pada Desember 1998. Ketika itu saya baru beberapa bulan menyandang status sebagai siswa SLTP atau SMP. Saya tipikal anak yang biasa saja pada waktu itu. Tidak terlalu nakal, juga tidak terlalu polos. Saya merasa tidak ada yang salah atau kurang dalam diri. Mungkin ada beberapa hal yang saya harap bisa berubah berkenaan dengan kondisi keluarga, namun itu bukan hal yang terlalu besar kala itu.

Sudah menjadi kebiasaan keluarga kami untuk nyetel radio Bahtera Suara Yudha dari pukul 5 pagi hingga 12 malam. FYI, radio itu adalah radio di Surabaya yang pada waktu itu boleh dikatakan pertama dan satu-satunya ber-genre rohani. Memasuki bulan Desember tema Natal selalu menghiasi setiap program. Lagu-lagu, perbincangan, dan khotbah-khotbah pun sebagian besar bertemakan Natal. Kisah tentang Anak Allah yang turun ke dunia karena kasih untuk pertama kalinya meresap ke dinding hati. Hari demi hari resapan itu menembus hati, membuatnya basah, hingga meluap memenuhi jiwa dan roh.

Saya tidak ingat apa yang sedang saya dengarkan ketika itu, namun jiwa saya merasakan kehausan yang dahsyat. Perlahan saya mulai membaca kitab-kitab Injil. Tidak seluruhnya, hanya cuplikan-cuplikan tertentu, hingga pada Injil Yohanes air mata mulai berlinang. Dengan siaran radio yang sayup-sayup berkumandang, jiwa ini terlingkupi oleh sejenis cinta yang aneh. Cinta yang belum pernah saya kenali sebelumnya. Melebihi cinta orangtua yang selama ini saya nikmati. Cinta yang aneh dan tak terbendung ini sungguh memabukkan. Dengan mulut bergetar dan terasa asin oleh air mata saya berdoa, : "Yesus, aku mengasihi-Mu. Terimakasih karena Kau mengasihiku lebih dulu dan datang ke dunia untuk menebus dosaku. Aku orang berdosa, ampunilah aku. Aku buka hatiku, masuklah dan jadilah Tuhan atas hidupku, selamanya. Amin". Doa ini mirip formula doa yang sering saya dengar di akhir film Yesus Kristus. Ya, karena memang film itu hampir setiap tahun diputar di TV, pun audionya diputar di radio, maka tidak sulit bagi saya untuk mengingatnya.

Kasih dan pengampunan-Nya mengalir seperti sungai yang menyegarkan. Seluruh tubuh ini serasa sedang hanyut dalam suatu aliran yang menenggelamkan namun tak mematikan. Sejak saat itu saya mengerti artinya diampuni dan ditebus, dimerdekakan serta dijadikan warga negara yang bebas, warga kerajaan Tuhan.

Selama beberapa menit kemudian waktu terasa lambat berlalu. Dengan badan yang rebah di atas kasur, dengan lelehan air mata yang masih membasahi pipi, saya hanya menikmati saat berdua dengan-Nya sambil tersenyum. Jika ada orang yang masuk dan melihat kondisi saya pada waktu itu, mungkin dia akan berpikir saya aneh karena nangis sambil senyum-senyum sendiri di kamar. Musik rohani masih terlantun melalui radio, melantunkan pujian yang dibawakan Giving My Best,

Jadikan aku indah
Yang kau pandang mulia
Seturut karya-Mu
Di dalam hidupku
Ajar ku berharap
Hanya kepada-Mu
Taat dan setia
Kepada-Mu Tuhan

Dan hari itu, untuk pertama kalinya doa itu terucap dari mulut saya. Di kamar, seorang diri, tanpa altar call, dalam kesederhanaan suasana, dalam keculunan seorang bocah 12 tahun, jumpa pertama dengan cinta pertama yang menjadi awal jalinan cinta Khalik dan makhluknya.

Kini, hampir 16 tahun sejak peristiwa itu berlalu, kisah cinta itu terus terajut. Tak selalu indah karena kadangkala saya membuat kekacauan, tapi Dia tak pernah menyerah. Itulah sebabnya saya pun tak ingin menyerah. Ujung dari kisah ini adalah perjamuan kawin dan kebersamaan kekal dengan-Nya. Namun sebelum semua itu terjadi, saya harus membuktikan kesetiaan iman.

Inilah kisah yang biasa dari orang biasa yang diangkat oleh Tuhan yang luar biasa untuk menjadi bagian dari rencana-Nya yang luar biasa di sepanjang sejarah umat manusia.

Bagaimana kisahmu?

Sunday, June 22, 2014

Berempati Pada Kemenangan

Masih segar dalam ingatan beberapa hari yang lalu dalam perhelatan piala dunia, dimana Jerman mengalahkan Portugal dengan skor yang cukup telak 4-0. Kita tahu bahwa Portugal punya salah satu pemain terbaik dunia yang juga rupawan yaitu Cristiano Ronaldo. Karena ketampanannya banyak gadis terpesona. Namun ketika berhadapan dengan timnas Jerman, Ronaldo seolah tidak berkutik. Para gadis banyak yang histeris sambil menyemangati agar Ronaldo bisa mencetak gol. Hasilnya? nihil.

Sepakbola adalah olahraga tim. Satu orang pemain terbaik tidak bisa mengatasi sebelas pemain hebat. Kita tahu bahwa kualitas pemain Jerman juga merata. Baik tim utama maupun pelapis memiliki kualitas yang sepadan. Kerjasama mereka juga sangat baik di lapangan. Tidak mengherankan mengingat sebagian besar pemainnya berkompetisi di liga domestik.

Kepada para gadis penggemar Ronaldo, saya turut prihatin. Ini ungkapan tulus. Saya mengakui Portugal tim yang hebat, tapi secara realistis Jerman lebih hebat. Saya sedih atas kekalahan Portugal, namun juga senang atas kemenangan Jerman. Apakah saya bunglon? Tentu tidak. Kebenarannya adalah saya menyukai sepakbola lebih dari saya menyukai kedua tim yang bertanding.

Dua ribu tahun yang lalu seseorang pernah berkata, "Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!". Secara sederhana nasihat ini saya terjemahkan menjadi, berempatilah!. Empati saya gambarkan sebagai memposisikan diri sebagai orang lain sehingga kita bisa menyelami pikiran dan perasaannya. Selama ini mungkin kita hanya memahami empati diberikan kepada para korban, para pecundang, dan orang-orang yang tersisihkan. Kita telah familiar dengan empati pada kekalahan, padahal kita juga perlu berempati pada kemenangan.

Hari-hari mendatang kita menjelang pemilu presiden. Bagi pihak yang kalah tentu mengalami kesedihan, dan bagi pemenang sukacitalah yang diperoleh. Mungkin analogi ini tidak sepenuhnya tepat, tapi saya menganggap pilpres adalah pertandingan yang dilakukan dengan sportivitas dan semangat cinta tanah air. Sama dengan sepakbola dimana sportivitas dan cinta kepada sepakbola yang melandasinya. Pilpres bukan pertandingan yang dilandasi kebencian dan permusuhan, namun kecintaan dan persahabatan. Seperti halnya dalam pertandingan sepakbola, kedua tim akan bersalaman dan bertukar kaos seusai pertandingan, demikianlah hendaknya pesta demokrasi ini kita jalani.

Natur jahat kita adalah susah lihat orang senang dan senang lihat orang susah. Namun natur manusia beradab adalah berempati terhadap sesama apapun kondisinya. Bersukacita dengan mereka yang bersukacita, dan berdukacita dengan mereka yang berdukacita.

Tuesday, June 10, 2014

Pilpres Bukan Ajang Tempur

Beberapa pekan terakhir jejaring sosial ramai dengan topik pilpres. Namun hal yang tersaji seringkali tak elok dipandang dan dibaca. Para pendukung sibuk saling menyerang lawan seolah mereka adalah musuh bebuyutan. Padahal kita tahu bahwa partai induk kedua capres punya sejarah kemesraan yang indah. Mereka bersama berjuang di pilpres 2009, juga di pilkada DKI yang berbuah manis terpilihnya Jokowi-Ahok.

Kawan seperjuangan kini telah menjadi lawan. Bagi saya ini masih sanggup diterima. Karena lawan sebenarnya masih terhitung sebagai kawan. Mereka tetap kawan namun berbeda perjuangan. Tapi dengan segera posisi lawan itu mengalami pergeseran menjadi semacam musuh. Dimana ada permusuhan disitu ada kebencian. Nah, yang memilukan adalah permusuhan itu timbul di kalangan rakyat pendukung. Padahal saya tidak yakin bahwa para capres dan cawapres itu saling membenci, namun di masyarakat justru itulah yang terjadi.

Saya secara pribadi telah menetapkan capres pilihan. Namun saya tidak tertarik untuk mencari kekurangan dan kelemahan capres seberang. Mengapa demikian? Pertama, saya memilih capres bukan sebagai pelarian karena kecewa pada capres seberang atau orang-orang tertentu. Kedua, saya percaya setiap orang punya kekurangan. Sungguh tidak elok meneriakkan keburukan lawan, apalagi jika kita juga mempunyai keburukan yang sama. Ingat bahwa kedua capres berasal dari dua parpol yang punya kemesraan di masa lalu. Mereka mestinya sudah sama tahu kelebihan dan kekurangan masing-masing sebagai dua sejoli yang telah cukup lama in a relationship.

Lalu muncul pertanyaan, bukankah dengan tahu kelebihan dan kekurangan akan membuat masyarakat lebih cerdas dalam memilih? Saya pikir memang hal itu benar, sepanjang pemaparan kelebihan dan kekurangan itu tidak dilakukan atas dasar kebencian. Namun yang saya amati adalah porsi pemaparan kekurangan dan keburukan lawan sangatlah besar, begitu mendominasi, bahkan mengalahkan pemaparan kelebihan sang jagoan, apalagi pemaparan (pengakuan) kelebihan lawan, hampir dikatakan nol. Para pendukung yang gelap mata ini seolah tak sanggup melihat setitik kebaikan dalam diri lawan. Setiap hal baik yang dilakukan sang lawan akan disangka buruk. Setiap perkataan baik yang keluar dari mulut sang lawan pun dianggap sampah atau omong kosong. Jika kita telah mengalaminya artinya kita telah terjangkit kebencian yang menyesatkan. Segera sembuhkan hati kita sebelum menjadi terlalu pahit.

Para pembaca yang budiman, perjuangankan dan dukunglah capres pilihan anda dengan cara yang bermartabat. Mari buang kebencian dari hati kita. Mari singkirkan caci maki dari tutur kata kita. Bukankah salah satu dari kedua pasang calon tersebut akan menjadi presiden kita kelak? Jika akhirnya bukan pilihan kita yang menang tak perlu ngambek.

Saya memilih untuk memperjuangkan capres yang saya anggap layak memimpin Indonesia lima tahun mendatang dengan cara yang bermartabat. Saya memilih untuk tidak golput. Saya memilih karena cinta akan Indonesia. Bagaimana dengan anda?

Tuesday, May 20, 2014

Menjadi Kristen

Diambil dari catatan singkat di ponsel ketika merenung:

Menjadi kristen bukan tentang mengikuti kebaktian, atau mengambil bagian dalam pekerjaan pelayanan, atau memberi korban persembahan, atau mengenakan aksesoris tertentu, atau menenteng alkitab di hari tertentu.

Menjadi kristen adalah tentang meneladani Kristus, mengenakan pikiran dan perasaan-Nya, mengikuti gaya hidup-Nya, menjadikan Kristus pusat dari hidup kita, melakukan segala sesuatu demi Dia, dan menjadikan Dia penguasa tunggal atas hidup kita. Meneladani Kristus, termasuk dalam memikul salib dan menyalibkan ego kita, supaya Kristus yang hidup membangkitkan kita.

Saturday, May 10, 2014

Gadis Pertama yang Menawan Hati

Awal bertemu dengannya aku tak tahu apa yang kurasakan. Antara senang, penasaran, bingung, grogi, dan sedikit cemburu. Cemburu karena dengan segera dia disukai orangtuaku. Namun aku tak mampu menafikan kasih sayang yang tumbuh dari dalam hati.

Dalam ingatan yang samar-samar tentang pertemuan pertama ku lihat wajahnya yang kemerahan, imut, dan teduh. Sesekali dia mengeluarkan suara berisik, tapi itu hanya membuatku terdiam memandangnya.

Usia kami terpaut dua tahun dan kami dibesarkan di lingkungan yang sama. Itulah yang semakin menyuburkan kasih sayang di antara kami. Gadis itu bukan saja telah merebut hati orangtuaku, hatiku pun telah dimilikinya.

Di tahun-tahun pertama kebersamaan kami, pertengkaran sangat sering terjadi. Sebagai yang lebih tua aku tak bersedia mengalah. Bahkan seringkali aku melakukan kekerasan kepadanya. Sebuah kebodohan yang ku sesali beberapa tahun kemudian.

Seiring kedewasaan yang bertambah, egoisme telah sangat luruh di antara kami. Pertengkaran tergantikan dengan kasih sayang yang nyata. Nyata, karena sejak awal kami telah memilikinya namun masih tertutup oleh egoisme.

Aku berjanji akan terus menjaga dia. Jika Tuhan mengizinkan, aku ingin menghantarkannya sampai ke gerbang pernikahan, sampai dia menemukan pria yang akan mempersuntingnya. Pria yang mengasihi Tuhan dan dirinya. Pria yang bertanggungjawab dan setia.

Kini dia telah tumbuh menjadi gadis yang elok dan mempesona. Sebagian orang mengatakan bahwa wajah kami mirip. Tentu saja, karena kami lahir dari rahim yang sama. Kami memiliki bapak yang sama. Kami memiliki gen yang sebagian besar sama. Karena dia adalah adik perempuanku. Gadis pertama yang menawan hatiku sejak kelahirannya di dunia. Orangtua kami memberikan dia nama Neti Ginjasari.

Akulah jalan menuju dia, tidak ada seorang pria pun yang boleh berjuang mendapatkan hatinya kalau tidak melalui aku.

Monday, April 21, 2014

Yesus yang Dikampanyekan

Beberapa saat yang lalu Indonesia dipenuhi dengan spanduk para caleg. Mereka menceritakan visi & misi dalam kampanye. Yang memiliki banyak gelar memajang gelar mereka yang lebih panjang dari nama polosnya. Setiap caleg berusaha menunjukkan kelebihan, kehebatan, dan kebolehan masing-masing. Sambil sesekali membandingkannya kehebatannya dengan pesaing, mereka menunjukkan bahwa dirinya lebih baik dari pesaing.

Apakah Yesus pernah mengkampanyekan diri-Nya? Apakah para rasul mengkampanyekan-Nya? Saya tidak yakin ada pernyataan Yesus yang bisa dikategorikan sebagai kampanye. Setidaknya tidak untuk kampanye seperti yang sekarang ada di dunia politik. Yesus berkata pada waktu memanggil murid-murid pertama-Nya, "Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia". Apakah ini ajakan yang fantastis? Ya dan tidak. Ya, karena penjala manusia terdengar lebih keren daripada penjala ikan. Tidak, karena untuk menjadi penjala manusia mereka harus melepaskan pekerjaan sebagai penjala ikan. Mereka harus kehilangan mata pencaharian yang selama ini menopang perekonomian keluarga. Menjala manusia berarti bekerja untuk empunya manusia. Tidak ada janji kemakmuran ekonomi yang lebih baik dari sebelumnya.

Mungkin kita menganggap pernyataan Yesus berikut ini sebagai kampanye; "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu". Siapa yang tidak suka dengan ajakan ini? Setiap orang yang sedang letih lesu dan berbeban berat tentu menyukainya. Dengan bersegera mereka akan berlari mendatangi-Nya, tangan-Nya yang terbuka siap memeluk dengan kasih sayang dan memberi kelegaan. Namun, cukupkah sampai di sini? Kalau kita baca, pernyataan Yesus ini berlanjut demikian; "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." Pikullah kuk ini sering tidak dibahas satu paket dengan marilah. Akibatnya orang hanya menganggap Yesus sebagai pereda nyeri saja. Nyeri yang ditimbulkan oleh beban-beban yang menghimpit. Padahal Dia juga mau mengenakan beban berupa kuk kepada kita. Kuk membuat gerakan kita terbatas. Kita tidak bisa bertindak semau gue jika mengenakan kuk. Mengenakan kuk berarti memberi diri untuk dikendalikan oleh Sang Pemasangnya. Kabar baiknya adalah kuk itu enak, karena Sang Pemasang itu pun telah lebih dahulu mengenakannya. Dia menjalani seluruh hidup di dunia dalam ketaatan total.

Pada kesempatan lain, Yesus membeberkan syarat menjadi pengikut-Nya. Mungkin kita akan berpikir puluhan kali sebelum mengambil keputusan mengikuti-Nya, karena syaratnya adalah menyangkal diri dan memikul salib kita sendiri. Menyangkal diri secara sederhana dapat dikatakan sebagai komitmen untuk melawan, memerangi, dan menaklukan keakuan. Seruan penyangkalan diri adalah seperti ini; "Seluruh hidupku bukan milikku, tapi milik-Nya. Biar bukan kehendakku yang jadi, namun kehendak-Nya". Syarat berikutnya adalah memikul salibnya setiap hari. Salibnya masing-masing, bukan salib orang lain. Salib ini adalah tanda bahwa kita milik Kristus. Bukan tanda lahiriah berupa bentuk cross, tapi tanda-tanda penderitaan seperti yang telah dialami-Nya. Syukur bahwa salib yang harus kita pikul jauh lebih mudah dari yang Yesus alami. Apakah kita hanya mau mengalungi salib dan enggan memikulnya? Sesuatu yang dipikul tentu lebih berat daripada sesuatu yang dikalungkan.

Apakah para rasul mengkampanyekan Yesus yang spektakuler? Berita Injil sejatinya adalah tentang Yesus yang disalibkan. Yesus yang tidak lolos dari kematian. Yesus yang diolok-olok, " Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan". Namun, Yesus yang disalib inilah yang menanggung dosa kita. Ia mati sebagai anak domba yang sempurna. Yesus yang telah mati ini tidak selamanya tinggal dalam alam kematian. Dia telah bangkit, mengatasi maut. Dia telah membuktikan perkataan-Nya bahwa bait Allah akan runtuh dan dibangun kembali dalam tiga hari.

Maka siapakah kita sehingga berani memberitakan-Nya sebagai penyembuh saja, pereda rasa nyeri saja, atau penolong saja? Atau lebih dari itu, siapakah kita sehingga berani memberitakan-Nya sebagai penjamin kemakmuran ekonomi? Melihat bagaimana Yesus dikampanyekan oleh sebagian orang Kristen hari ini hati saya sedih. Berita Injil direduksi sehingga tidak utuh lagi. Orang-orang hanya diberi iming-iming kesembuhan, pemulihan, dan mujizat tanpa kabar pertobatan dan penundukan diri kepada-Nya. Sebagian mereka yang terjaring dan tidak dididik akan merasa tertipu suatu saat, karena ternyata mereka diperhadapkan pada salib, yang dulu tidak pernah dikampanyekan. Saudaraku, saya tidak mengecilkan arti dari kampanye rohani yang dibungkus dengan label KKR atau semacamnya, namun marilah kita mengevaluasi berita Injil kita.

Tuesday, April 8, 2014

[Lagu] Kau Ada

Kau Ada 
(Lirik: Volare Amanda; Musik: Danu Retakson)

Dulu ku jalani hidup tanpa-Mu
Ku berjalan sendiri
Menempuh hamparan hidupku
Sampai ku tau ku terjatuh
Terluka dan ditinggalkan
Tanpa ada kepastian tuk berdiri

Reff:
Engkau Alfa dan Omega
Kau adalah yang awal dan akhir
Kau ada saat ku tak kenal-Mu
Ada saat ku bersama-Mu
Ada saat ku tak tau apa yang kan datang
Kau ada

Kini kujalani hidup dengan-Mu
Tak mudah dan tanpa tangisan
Masih sering ku lukai-Mu
Namun Kau tetap ada
Di sisiku selalu di sisiku
Tak pernah sekalipun tinggalkanku

Friday, March 21, 2014

Statusisasi Rohani vs Rohanisasi Status

Inilah contoh status rohani seseorang (sebagian orang). Kalau update status isinya update kegiatan-kegiatan rohani seperti ini:

Minggu

Jam 07:00 update: ”ibadah pagi dulu ya”

Jam 12:00 update status lagi : “jadi singer untuk ibadah siang”

Jam 17:00 update lagi dong : “ayo semangat tim doa KKR malam ini”

Senin

Menjelang jam 22:00 update : “siap-siap ketemu di udara dengan tim doa”

Selasa

Update status jam 18:30 : “doa malam, yeaaah”

Rabu

Bangun tidur langsung update: “yang hari ini doa puasa semangat ya. Nanti sore jangan lupa doa bareng”

Jam 19:00 update lagi : “lagi ibadah doa puasa”

Kamis

Jam 18:30 bikin status : “latihan sama tim P&W buat ibadah minggu”

Jumat

11:00 update : “persekutuan di kampus”

Sabtu

Jam 18:05 : “yooo...berangkat ibadah pemuda. Penyegaran rohani sekaligus mata”

Dan inilah rohanisasi status yang saya lakukan :

Minggu

Jam 06:00 update status : “persiapan pelayanan pagi di taman Bungkul”. Sebenarnya yang saya lakukan: jogging pagi-pagi di taman Bungkul mumpung car free day.

Jam 09:00 update lagi : “mengambil bagian dalam pergerakan Tuhan. Tua-muda, besar-kecil, semua bergerak”. Sebenarnya yang terjadi : ada senam rame-rame waktu car free day.

10:30 update lagi : “berbagi berkat untuk sesama”. Yang terjadi sesungguhnya : mentraktir teman minum es cendol habis berolahraga.

Senin

Update jam 05:30 : “pelayanan ke pasar tradisional”. Kejadian sebenarnya: ngantar ibu belanja kebutuhan sehari-hari ke pasar.

Jam 07:00 : “ada atau tidak ada rekan, pelayanan harus tetap berjalan. Mampukan aku hari ini ya Tuhan”. Kenyataannya adalah : saya ngantor selama 8 jam dimana memang dalam unit kerja saya tidak ada rekan lain, alias jabatan saya cuma ada satu di perusahaan.

Selasa – Sabtu

Update jam 07:00 : idem dengan update hari Senin jam 07:00

Jam 21:00 : “pelayanan kepada anak-anak di jalanan. Puji Tuhan”. Sebenarnya yang terjadi : nongkrong sama teman-teman di warkop pinggir jalan.

Saya tidak bermaksud menyerang siapapun. Tapi kadang saya merasa agak aneh dengan update status yang isinya melulu hanya aktivitas rohani (penekanan pada cetak miring). Bagi saya, akan lebih sedap dibaca dan bermanfaat jika yang ditulis di status adalah pelajaran/nilai-nilai yang dipelajari dari kegiatan-kegiatan tersebut. Jika saya berpikir sedikit lebih jauh, Apa peduliku dengan semua kegiatan rohanimu? Darimana aku tahu kamu benar-benar melakukannya? Apa hasil itu semua? Apa motivasimu melakukan update seperti itu? Supaya kelihatan rohani atau bagaimana? Karena sayapun bisa melakukan rohanisasi status dari kegiatan sehari-hari yang tampaknya tidak rohani.

Kisah di atas hanya rekonstruksi dengan sedikit lebayisasi. Statusisasi rohani diatas adalah hiperbola yang saya kembangkan sendiri. Saya bukan orang yang rajin mengantar ibu belanja ke pasar. Bukan juga pekerja yang kerja 8 jam sehari dari Senin sampai Sabtu. Rohanisasi yang saya tuliskan itu hanya fiktif belaka. Apa yang ingin saya sampaikan dari tulisan di atas adalah: mari belajar lebih bijaksana menggunakan jejaring sosial. Orang lebih senang membaca update tentang pelajaran hidup yang anda dapatkan daripada apa yang anda sedang lakukan. Setidaknya itu berlaku untuk saya. Orang bisa mendapat motivasi dengan pelajaran hidup yang anda bagikan, lebih daripada update kegiatan yang anda sedang kerjakan. Saya mengatakan ini bukan berarti tidak suka sama sekali jika ada yang update "sedang......di......dengan.....", namun dalam pandangan saya kita perlu lebih bijaksana dan proporsional dalam mempergunakan jejaring sosial.

Semoga yang tersindir tidak sakit hati, dan yang tidak tersindir mendapat hiburan.

Friday, March 14, 2014

Merenungkan Kebaikan

Baik itu relatif dalam kacamata obyektif, tapi absolut dalam kacamata subyektif. Kita mungkin berkata hujan itu tidak baik ketika berencana bermain di luar ruangan. Sebaliknya akan berkata itu baik saat sedang menghadapi kebakaran.

Seorang anak berbuat kesalahan, mengakuinya kepada sang ayah, berharap ayahnya serta merta membebaskannya dari konsekuensi yang harus ditanggung. Ayahnya tentu saja memaafkan, tapi konsekuensi tidak bisa dihindarkan, disiplin harus ditegakkan. Bagi si anak mungkin tindakan disiplin itu dirasa tidak baik, tapi dalam pandangan sang ayah itulah kebaikan. Diperlukan beberapa tahun bagi si anak untuk menyadari maksud kebaikan yang terwujud dalam pendisiplinan ayahnya. Bahkan mungkin dia baru bisa memahaminya saat telah menjadi ayah.

Hubungan serupa juga terlihat pada atlet dengan pelatih, murid dengan guru, dan makhluk dengan penciptanya. Kita mengalami didikan, ganjaran, larangan, semata-mata untuk kebaikan. Masalahnya, kita belum bisa melihat kebaikan itu pada saat mengalaminya. Lalu kita bereaksi marah, protes, memberontak, dan pergi. Setelah lama mengembara dan menjadi bijaksana kita teringat akan peristiwa-peristiwa masa lalu yang dulu kita anggap sebagai kejahatan, kemalangan, keburukan, ternyata itulah yang membuat kita menjadi bijaksana. Kita mulai sadar dan berterimakasih kepada para pendidik terdahulu.

Namun saat kita beranjak kepada Tuhan, kebaikan itu menjadi lebih sulit untuk diukur. Definisi kebaikan menurut kita sangat jauh jika dibandingkan dengan Tuhan. Kita mungkin berangan atau berkhayal bahwa Tuhan seharusnya memenuhi kriteria kebaikan yang kita tetapkan. Tuhan yang baik itu seharusnya begini dan begitu. Padahal dengan demikian kita justru menciptakan tuhan khayalan yang sesuai kemauan kita, yang dapat diatur sesuai standar kita. Dan tuhan yang dapat diatur oleh manusia pastilah tidak lebih hebat dari manusia. Dengan kata lain ia pasti cuma manusia atau sesuatu yang lebih rendah dari itu. Secara tidak langsung, kita mendaulat diri lebih besar daripada tuhan. Inilah pemberhalaan yang bodoh.

Padahal Tuhan yang sejati seringkali bertindak lebih ekstrem dari orangtua, guru, dan pelatih kita. Kita lebih sulit memahami cara-Nya menunjukkan kebaikan. Kebangkrutan, penyakit, bencana, bahkan kematian yang menurut kita tidak adil dapat dipakai untuk menunjukkan maksud baik-Nya. Hanya Dialah satu-satunya yang bisa menggunakan instrumen-instrumen tersebut untuk maksud kebaikan. Kebaikan yang saat ini belum mampu dijangkau oleh pemikiran kita. Bahkan sampai berakhirnya riwayat bumi pun mungkin kita tak akan sanggup.

Definisi kita tentang kebaikan sungguh rapuh, baik jika diterapkan kepada sesama manusia, makhluk lain, ataupun alam semesta, terlebih Tuhan. Keberadaan kejahatan memerlukan lebih dari sekedar pengertian bahwa semuanya akan berujung pada kebaikan. Keberadaan kejahatan adalah pertanda bahwa kita harus semakin bertindak baik. Kejahatan tidak dapat dikalahkan dengan kejahatan, tapi dia dapat dilenyapkan oleh kebaikan. Kita tidak dapat memadamkan api dengan menggunakan api, kita perlu air untuk memadamkannya.

Monday, March 3, 2014

Kasih Ilahi

Salam jumpa pembaca yang budiman. Sampailah kita pada bagian tersulit yang harus saya tulis mengenai kasih. Saya sebut tersulit karena menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia saja sangat sulit. Kedua, karena saya tidak bisa menyembunyikan pandangan teologis yang saya yakini. Dan yang paling membebani adalah bahwa kasih ini adalah kasih yang paling agung yang sanggup diberikan oleh manusia.

Saya menyebutnya kasih ilahi. Beberapa orang menyebutnya agape atau kasih tanpa syarat. Sampai saat ini saya belum membandingkan prioritas dari kasih-kasih yang kita alami. Namun kini hal ini tidak bisa saya hidari lagi. Ada satu kasih yang menuntut untuk diprioritaskan melebihi kasih-kasih yang lain. Sebenarnya, apakah ada masalah jika kita terlalu besar mengasihi orangtua, anak, sahabat, atau kekasih kita? Sejauh yang saya renungkan, yang menjadi masalah bukanlah bahwa kita mengasihi mereka terlalu besar. Masalah sesungguhnya adalah kita mengasihi mereka lebih besar daripada kasih kita kepada Tuhan.

Seperti kita ketahui bahwa apapun yang kita kasihi berpotensi menjadi tuhan, dan jika tuhan kita bukan Tuhan maka pastilah dia setan. Dia menjadi setan bukan semata-mata karena kejam, tapi karena kita menjadikannya demikian dalam hidup kita. Tuhan itu cemburu. Jika kita mengaku memperhambakan diri pada-Nya maka Dia menuntut kasih kita kepada-Nya berada di posisi teratas. Ada kalanya Ia akan menyingkirkan tuhan-tuhan kecil dalam hidup kita supaya Ia tetap jadi satu-satunya Tuhan yang bertahta atas hati kita. Proses ini yang seringkali membuat kita merasa kesakitan. Namun saat kita mengeraskan hati, maka kita sedang menyingkirkan-Nya dari tahta hati kita. Dan saya pikir itu adalah tindakan yang pasti akan kita sesali. Dari sini kita belajar untuk menundukkan kasih-kasih yang lain di bawah kasih ilahi. Kasih-kasih yang lain boleh tetap tinggal dengan syarat dikendalikan oleh kasih ilahi, atau kalau tidak demikian maka lebih baik dia mati sama sekali.

Tapi agape pasti bohong atau pura-pura jika tidak terwujud dalam bentuk kasih yang lain. Bukti bahwa kita mengasihi Tuhan adalah adanya tindakan kasih terhadap sesama. Orang yang mengasihi Tuhan mustahil membenci sesamanya. Kita belajar mewujudkan kasih kepada yang tidak kelihatan dengan cara mengasihi yang kelihatan. Kita sesungguhnya belajar mempraktikkan cara Tuhan mengasihi kita dengan meniru bagaimana Dia mengasihi kita. Tindakan kasih-Nya saat Dia mengampuni, memaafkan, menerima, merawat, memotivasi, dan sebagainya adalah kekuatan dan modal kita untuk menularkannya kepada sesama. Seperti telah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya, bahwa kita hanya dapat memberi apa yang kita miliki, maka kita bisa memberi kasih kepada sesama karena kita telah menerima kasih dari Tuhan.  

Namun ada lagi yang membedakan kasih kepada Tuhan dengan kasih lainnya. Tanda kedewasaan kasih pada manusia adalah kesediaan kita untuk kehilangan. Semakin dewasa kita mengasihi seseorang maka kita semakin sanggup kehilangan, sanggup mandiri, sanggup melepas orang yang kita kasihi, karena kita tahu bahwa kebahagiaan dan keindahan kekasih itu lebih berharga daripada keegoisan kita untuk terus menggenggamnya. Kita akan lebih suka memberi daripada menerima dalam hubungan kita dengan orang-orang yang kita kasihi. Bahkan pada titik tertentu kita hanya ingin memberi tanpa menerima. Namun hal ini berbeda dengan kasih kepada Tuhan. Semakin kita mengasihi-Nya, semakin kita bergantung kepada-Nya, semakin ingin lebih lekat dan tak terpisahkan dengan-Nya. Dalam natur kita yang telah rusak oleh dosa, ketergantungan dan ketidaklayakan kita di hadapan-Nya menumbuhkan pula penghormatan dan penghargaan kepada Tuhan. Penghormatan dan penghargaan kita kepada-Nya membuat kita ingin selalu memberi dan berupaya menyenangkan-Nya dengan seluruh hidup kita, dengan segenap pemberian kita. Namun demikian, kita tidak bisa berkata bahwa kita hanya ingin memberi tanpa menerima dari-Nya, karena itu sama saja kita berkata dengan sombongnya kepada Tuhan, “aku tidak perlu kasih-Mu”.

Akhirnya, kasih ilahilah yang memampukan kita mengasihi sesama dengan tulus. Yang membuat kita sembuh saat keinginan kita akan kasih sesama terkoyak. Ketika kita mempunyai kasih yang mampu memenuhi seluruh hidup kita, maka kasih yang lain tidak lagi menjadi pemuas dahaga kita lagi. Ketika kasih yang kokoh telah menguatkan kita, maka kita tidak lagi rapuh oleh harapan palsu yang ditawarkan kasih-kasih lainnya. Karena kasih inilah yang tidak pernah berdusta, tidak pernah ingkar, dan tidak pernah meninggalkan kita.
 
Apa yang saya sampaikan sekarang mungkin bukan sesuatu hal yang baru bagi pembaca sekalian. Maka itu ijinkanlah saya mengajak anda untuk merenungkan kasih kita kepada-Nya. Benarkah dalam keseharian kita, kasih kita kepada-Nya telah ada di tempat yang seharusnya? Ataukah kita telah terlalu sibuk mengasihi kekasih kita dan hanya menyisakan beberapa menit untuk merenungkan kasih-Nya? Bukankah semestinya hari-hari kita dipenuhi kasih-Nya? Bukankah kasih ilahi yang semestinya menggerakkan kita untuk mengasihi sesama?
 
Semoga tulisan ini bermanfaat.

Friday, February 7, 2014

Jatuh Cinta



Pembaca yang budiman, saya akan membahas cinta dengan cara yang mungkin sedikit berbeda dengan cara kebanyakan. Sebagian besar bacaan tentang cinta akan membawa pembacanya untuk menikmati rasa cinta, namun saya akan mengajak anda untuk berpikir tentang cinta. Sekali lagi ini adalah lanjutan dari seri The Four Loves yang diadaptasi dari tulisan C.S. Lewis.
 
Eros yang dimaksud di sini adalah keadaan yang kita sebut “jatuh cinta”, atau dengan kata lain “asmara”. Beberapa orang telah salah mengartikannya sebagai seksualitas belaka. Walaupun seksualitas punya kaitan dengan Eros, namun bukan berarti seksualitas itu sama dengan Eros. Seksualitas dapat hadir tanpa eros, dan ini bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Memang ada seksualitas tanpa Eros yang salah, contohnya pemerkosaan, namun ada juga yang tidak salah, bahkan sah. Sebagian besar nenek moyang kita menikah pada usia yang sangat muda dengan pasangan pilihan orang tua mereka dan tidak ada hubungannya dengan Eros sama sekali pada awalnya. Sebaliknya, ada pula seksualitas yang terbungkus Eros namun tidak disertai akal sehat yang menghasilkan perzinahan, menyakiti hati istri, menipu suami, mengkhianati teman, merusak hubungan, dan meninggalkan anak-anak.

Eros seringkali muncul secara berikut; pertama kali ada perasaan tertarik kepada lawan jenis, ketertarikan umum kepada penampilannya secara keseluruhan. Seseorang yang berada dalam kondisi ini benar-benar tidak mempunyai waktu untuk memikirkan seks. Ia terlalu sibuk memikirkan orang itu. ia penuh gairah, tapi tidak mengarah kepada gairah seks. Jika anda bertanya apa yang diinginkannya, jawabannya seringkali, “terus memikirkannya.” Ia senang merenungkan cintanya. Dan ketika kemudian unsur seksual muncul, ia tidak akan merasa bahwa ini menjadi akar dari semua perasaannya selama ini.

Eros membuat laki-laki benar-benar menginginkan, bukan sembarang perempuan, melainkan satu perempuan tertentu. Laki-laki tersebut menginginkan Kekasih itu sendiri, bukan kesenangan yang dapat diberikan oleh Kekasih. Jika kita belum pernah mengalaminya, mungkin akan sulit membedakan antara mengingnkan seseorang dan menginginkan suatu kesenangan, kenyamanan, atau pelayanan yang dapat diberikan oleh seseorang. Eros yang paling tulus bisa dikatakan tidak beralasan. Bukan karena dia begini atau begitu aku menginginkannya, tapi aku menginginkannya karena dia adalah dia.

Setiap orang tahu bahwa tidak ada gunanya mencoba memisahkan sepasang kekasih dengan membuktikan kepada mereka bahwa pernikahan mereka tidak akan bahagia.  Ini bukan karena mereka tidak akan mempercayai anda, (memang biasanya mereka tidak akan mempercayai anda) tapi, sekalipun mereka percaya, mereka tidak akan membatalkan pernikahan mereka. Karena itu adalah tanda ada Eros dalam diri kita, kita akan berbagi ketidakbahagiaan dengan Kekasih kita. Bahkan jika mereka cukup dewasa untuk menyadari bahwa jika tidak bersama akan membuat mereka sepuluh kali lebih bahagia, mereka akan tetap memilih untuk bersama. Sekalipun ada bukti bahwa pernikahan dengan orang yang kita kasihi itu tidak mungkin membawa kebahagiaan, hanya membawa pada kehidupan yang gagal, miskin, tanpa harapan, terbuang, atau hina – Eros tidak pernah ragu mengatakan, “Lebih baik begini daripada berpisah. Lebih baik menderita bersama dia daripada behagia tanpa dia. Biarlah hati kami hancur asalkan ditanggung bersama.” Inilah kemuliaan dan kengerian cinta.

Benih bahaya tersembunyi dalam kemuliaan Eros. Ia telah berbicara seperti tuhan. Komitmen totalnya, ketidakpeduliannya atas kebahagiaan, harga dirinya yang tinggi, terdengar seperti pesan dari kekekalan. Tetapi Eros yang dihormati dan ditaati tanpa syarat akan menjadi setan. Orang akan rela mati, menjadi martir demi Eros. Dalam kondisi ini Eros telah menyeruak menjadi sebuah “agama cinta”.  Orang bukan hanya kecanduan cinta tapi mempertuhankan cinta. Cinta itu sendirilah yang kemudian menjadi berhala. Di samping itu ada kemungkinan pemberhalaan yang lain, yaitu kepada Kekasih kita. Namun kemungkinan yang kedua itu tidak terlalu berhaya, setidaknya setelah sepasang Kekasih itu memasuki pernikahan. Di dalam pernihakan sepasang kekasih akan mengalami pengenalan-pengenalan yang membuat kemungkinan itu sangat kecil terjadi.

Walau diklaim berasal dari kekekalan, banyak keluhan tentang sifat Eros yang  berubah-ubah. Jatuh cinta berarti memaksudkan dan menjanjikan kesetiaan seumur hidup. Cinta membuat janji-janji yang tidak diminta, tidak dapat dicegah agar tidak mengobral janji. Kalimat, “aku akan selalu setia” ini sungguh-sungguh, tidak munafik. Namun kita sering mendengar cerita orang-orang yang jatuh cinta setiap tahun pada orang yang berbeda, yang berkata, “cinta yang kali ini sungguh-sungguh”, bahwa pengembaraan mereka telah berakhir, bahwa mereka telah menemukan cinta sejati dan akan setia sampai mati. Terdengar cukup menggelikan, namun kenyataannya mereka tulus saat mengucapkannya, walaupun ada pula yang hanya bermain-main. Tahun ini kita bisa berkata bahwa si A lah yang terbaik bagi kita, namun bisa jadi tahun depan kita berkata si B lah yang terbaik. Kondisi yang sedang saya jelaskan bukan berkata pada A dan B pada saat yang bersamaan bahwa merekalah yang terbaik, itu namanya mendua. Tapi yang saya maksudkan adalah kejadian bertemu A dan B sungguh peristiwa terpisah waktu.

Akhirnya, harus diakui bahwa cinta jenis ini tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan pertolongan, karena itu ia perlu diatur. Ia dapat dimatikan, tapi juga dapat dibiarkan hidup. Ia dapat hidup dengan indah dalam diri manusia jika Tuhan tetap menjadi Tuhan dalam hidup kita.

Persahabatan

Ketika Kasih Sayang dan Eros dijadikan tema, banyak orang siap menjadi pendengarnya. Tapi mungkin tidak banyak orang yang menganggap Persahabatan sebagai kasih. Tentu saja karena Persahabatan adalah yang paling tidak populer daripada kedua jenis kasih lainnya. Lebih jauh lagi, tidak semua orang mengalaminya. Inilah faktanya, manusia bisa manjalani seluruh hidupnya tanpa Persahabatan. Philia, yang dimaksud oleh orang Yunani.

Persahabatan adalah kasih yang paling tidak alami. Ia paling tidak berhubungan dengan syaraf kita. Tidak membuat detak jantung kita berpacu. Ia sangat tenang, karena begitulah naturnya. Ia pun rasional. Kita memilih sahabat bukan tanpa alasan yang rasional, sangat kontras dengan jatuh cinta.

Persahabatan membuat orang-orang menarik diri dari kebersamaan kolektif seolah-olah hendak menyepi. Dan yang lebih berbahaya, Persahabatan membuat mereka menarik diri ke dalam kelompok yang terdiri dari dua tiga orang. Seseorang berkata bahwa jika dari tiga orang sahabat (A, B, dan C), A harus mati, maka B bukan hanya kehilangan A, tapi bagian A didalam C, sementara C bukan hanya kehilangan A, tapi juga bagian A didalam B.

Persahabatan muncul dari pertemanan, ketika dua atau lebih rekan menemukan bahwa mereka memiliki wawasan atau minat yang sama atau bahkan selera yang sama yang tidak dimiliki orang lain. Ekspresi khas dari pertemanan biasanya begini, “Apa? Kau juga? Kupikir cuma aku yang... ”. Dengan bertemunya dua orang dengan kesamaan seperti ini, entah melalui kesulitan atau kegagalan atau melalui prestasi, ketika mereka berbagi visi, saat itulah Persahabatan lahir. Dan, dengan cepat mereka saling mengisi. Kemudian dua orang ini akan senang menemukan orang ketiga, keempat, dan seterusnya.

Ketika dua orang yang berbeda jenis kelamin ada dalam sebuah Persahabatan, maka Persahabatan itu akan dengan mudah bertumbuh menjadi eros, jatuh cinta. Kecuali tidak ada ketertarikan fisik, atau salah satunya telah punya kekasih, hampir dapat dipastikan kasih eros akan tumbuh di antara mereka. Sebaliknya, kasih eros dapat membawa mereka pada Persahabatan di antara sepasang kekasih. Namun hal ini tidak menghapus perbedaan di antara kedua jenis kasih itu, hal ini justru menempatkannya dalam pengertian yang lebih jelas. Sahabat anda, kemudian secara bertahap atau tiba-tiba menjadi kekasih anda. Anda pasti tidak ingin berbagi kasih eros dengan orang ketiga. Tapi, anda tidak akan cemburu untuk berbagi Persahabatan. Tidak ada yang lebih memperkaya kasih eros selain menemukan bahwa kekasih anda secara tulus masuk ke dalam Persahabatan dengan teman-teman anda.

Namun Persahabatan juga tak lepas dari kecurigaan, tuduhan tak beralasan, dari segelintir orang yang berkata bahwa Persahabatan antara sesama jenis tidak lain daripada sebuah homoseksualitas. Saya berani berkata bahwa para penuduh itu pasti tidak punya sahabat. Dua pria yang berjalan bergandengan, saling berpelukan, merangkul dari samping sambil berjalan, tidak lantas menyatakan bahwa mereka adalah homoseksual. Bahkan di bagian bumi tertentu di masa tertentu, berciuman antar pria adalah hal yang lumrah. Itu bukanlah ciuman erotis, namun ciuman Persahabatan. Saya sendiri punya seorang sahabat yang sekarang tinggal di Makassar. Seringkali, saat berboncengan di sepeda motor, yang duduk di belakang akan melingkarkan tangan di perut pengemudi (nyabuk dalam bahasa Suroboyoan). Kenyataan bahwa kami nyabuk kalau berboncengan tidak lantas membuat kami jadi homoseksual.

Harus diakui bahwa Persahabatan berperan sangat penting bagi kemajuan umat manusia di berbagai bidang. Para genius di seluruh dunia sangat terbantu, terbentuk, termotivasi, dan “tertambal” oleh sahabat-sahabatnya. Ilmu pengetahuan, seni, sastra, atau apapun, memperoleh manfaat dari Persahabatan para genius di bidangnya ini. Albert Einstein, C. S Lewis, Soekarno, dan banyak lagi tokoh, tidak akan tiba pada pencapaian seperti yang telah mereka capai jika mereka tidak mendapat masukan dari sahabat-sahabatnya.

Sampai disini kita akan bertemu dengan bahaya dari Persahabatan. Ketika orang-orang dengan pandangan, ide, visi, kesenangan-yang merusak, tidak benar, dan merugikan membuat pertemanan, kemudian bersatu dalam Persahabatan, maka kejahatan pula yang dihasilkannya. Itulah yang membuat korupsi, terorisme, diskriminasi, dan perpecahan menjadi sulit untuk dihadapi. Persahabatan dalam hal yang salah, sama seperti Persahabatan dalam hal yang benar, menghasilkan sinergi. Yang berarti satu ditambah satu bukan lagi dua, tapi lebih dari dua. Kekuatan Persahabatan membuat visi, tujuan, dan tindakan mereka, entah itu baik atau jahat, menjadi semakin besar dan kuat.

Sebagai penutup, saya akan mengatakan bahwa Persahabatan adalah alat yang dipakai oleh Tuhan untuk mengungkapkan keindahan orang yang satu kepada yang lain. Melalui Persahabatan, Tuhan membuka mata kita pada mereka. Sebuah kutipan dua ribu tahun yang lalu sungguh menunjukkan kekuatan dan kebesaran dari Persahabatan:

Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya.



Kasih Sayang

Salam jumpa para pembaca yang budiman. Tulisan ini adalah awal dari seri empat macam kasih yang akan saya bahas selama bulan Februari. Pembahasan saya akan banyak mengambil pemikiran dari C.S. Lewis. Boleh dikatakan pembahasan saya adalah intisari dari buku Lewis yang berjudul The Four Loves. Buku ini pernah dipinjam oleh tiga orang, dan kembali ke tangan saya sebelum mereka selesai membaca. Menurut mereka isinya berat. Oleh karena itu saya ingin menyajikan versi ringannya.

Saya akan mulai membahas satu jenis kasih yang paling sederhana dan paling luas. Orang Yunani menyebutnya storge. Saya menyebutknya Kasih Sayang, khususnya kasih sayang orang tua kepada anak-anak mereka, dan kasih sayang anak-anak kepada orang tua. Sebagai gambaran, kasih ini nampak dalam seorang ibu yang merawat bayinya. Bukan hanya pada manusia, kasih ini pun dapat kita lihat pada binatang. Anjing yang mengasuh anak-anak mereka melalui gonggongan, jilatan, dan dengkuran adalah contohnya.

Namun sesungguhnya Kasih Sayang melampaui hubungan orang tua dan anak. Kasih Sayang memberi rasa nyaman, kepuasan dalam kebersamaan, dan dapat ditujukan kepada siapa saja. Kasih semacam ini tidak membeda-bedakan. Hampir semua orang dapat menjadi sasaran dari Kasih Sayang; orang yang jelek, bodoh, bahkan menjengkelkan. Tidak perlu ada kecocokan antara orang-orang yang disatukan oleh Kasih Sayang. Kasih ini mengabaikan umur, jenis kelamin, kelas sosial, pendidikan, bahkan spesies. Kita bisa melihatnya pada manusia dan anjing, bahkan antara kucing dan anjing.

Ada sesuatu yang unik tentang Kasih Sayang. Kemunculan awalnya jarang kita sadari. Kita sering dapat mengingat momen jatuh cinta atau memulai persahabatan, namun tidak demikian dengan Kasih Sayang. Ia muncul seiring berjalannya waktu dalam kebersamaan. Sebagai contoh; anjing akan menyalak pada orang yang baru ditemuinya, namun mengibaskan ekor pada tuan atau kenalan lamanya. Anak kecil kadang takut pada orang yang baru ditemui, tapi merasa nyaman dengan tetangga yang bahkan jarang saling menyapa. Kasih Sayang juga tipe kasih yang hampir tidak perlu pengakuan. Anda tidak dituntut mengatakan “i love you” untuk menyatakan Kasih Sayang, sangat beda dengan jatuh cinta (eros) dimana hampir pasti pasangan mengharapkan dan cenderung menuntut ungkapan “i love you”.

Kasih Sayang sungguh tampak rendah hati dan sederhana. Ia akan indah tersimpan di hati, sama seperti perabot rumah tangga tersimpan di dalam rumah. Mengumbarnya kadang justru membuatnya tampak seperti mengeluarkan perabot yang seharusnya ada di dalam rumah, tampak aneh bukan?

Karena kita sedang membicarakan Kasih Sayang terpisah dari kasih-kasih yang lain, maka dari deskripsi diatas dapat kita lihat bahwa Kasih Sayang adalah jenis kasih paling sederhana. Keberadaannya ternyata kita lihat juga pada kasih-kasih yang lain. Ia adalah bahan dasar yang membaur dengan kasih-kasih lainnya. Mari kita membayangkan jatuh cinta (kasih eros) tanpa Kasih Sayang, atau persahabatan tanpa Kasih Sayang. Saya tak sanggup membayangkan eros dan persahabatan tanpa Kasih Sayang. Karena keberadaannya yang sangat luas, Kasih Sayang mempunyai sifat memperluas wawasan. Saya punya banyak teman dengan latar belakang dan kesukaan yang berbeda-beda. Kasih Sayang pada waktu tertentu membuat kita akhirnya memiliki kesukaan yang sama dengan orang-orang yang kita kasihi.

Kasih ini juga tulus. Tidak menuntut perubahan orang yang kita kasihi. Bahkan kita cenderung tidak menginginkannya berubah. Namun justru disinilah letak bahayanya Kasih Sayang. Ketika berdiri dengan sangat kokoh justru ia berpotensi melukai orang yang terkasih. Pernahkah anda menimang bayi yang lucu dan berharap ia akan terus lucu dengan ukuran tubuh dan kondisi seperti itu? Atau kekasih yang berkata kepada pasangannya, “jangan pernah berubah”. Sepertinya pernyataan itu baik, tapi sebetulnya bodoh. Kehidupan itu dinamis, demikian pula kasih, semestinya juga dinamis. Kita tidak bisa membuat orang-orang yang kita kasihi berada pada kondisi “tetap begitu”.

Salah satu penyimpangan Kasih Sayang lainnya saya contohkan sebagai berikut. Bu Ina adalah sosok ibu yang baik, mengabdi bagi keluarga, mengasihi suami dan anak-anaknya. Tiap hari ia bangun pagi sekali untuk menyiapkan sarapan, ia mencuci, menyapu, menyeterika, dan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga seorang diri tanpa pernah mengeluh. Kasih Sayang dan dedikasinya pada keluarga tidak diragukan lagi. Hal ini berlangsung hingga anak-anaknya dewasa, sampai suatu hari dia mengalami kecelakaan dan meninggal. Keluarga dan masyarakat tidak meragukan kebaikannya. Namun sepeninggalannya, keluarga ini ada dalam kondisi tidak bisa melakukan satu pun pekerjaan rumah tangga. Bu Ina tidak pernah mendelegasikan tugas kepada siapapun, sehingga ia meninggalkan keluarganya sebagai “bayi-bayi” dalam urusan pekerjaan rumah tangga.

Sesungguhnya kadang kita menciptakan kendali atas orang-orang yang kita kasihi dengan cara membuat mereka bergantung pada kita. Walau mungkin itu bukan motivasi kita, tapi dampaknya sungguh menghancurkan. Mungkin kita perlu mengakui bahwa kita takut, bahkan benci jika orang yang kita kasihi tidak lagi bergantung lagi pada kita. Kita merasa tidak diperlukan sehingga merasa cemburu pada hal-hal baru yang membuat mereka berubah dan mandiri. Inilah kengerian saat Kasih Sayang menempatkan dirinya begitu tinggi dalam diri kita.

Jika Kasih Sayang dibiarkan memerintah kehidupan manusia secara mutlak, benih-benih kebencian itu akan muncul. Kasih, jika dituhankan, akan menjadi setan.



Posting sebelumnya dapat dibaca di sini 

Ingin membaca tulisan saya tentang Valentine's Day? lihat di sini

Saturday, February 1, 2014

Cinta (Sebuah Pendahuluan)

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan saya bulan Feberuari 2013 disini. Selama bulan Februari saya akan membahas semua tentang cinta atau kasih. Baiklah, mari kita mulai.

Berbicara tentang kasih tentu bukan hal yang asing bagi manusia. Dimana-mana di seluruh dunia orang sudah sangat akrab dengan sesuatu yang disebut kasih. Sebagian orang menyebutnya cinta, sayang, suka, atau kasih sayang. Suatu hari seorang kawan pernah bertanya apakah cinta, kasih, dan sayang itu sama atau berbeda. Bagi saya, semua itu identik. Jika kita tilik bahasa Inggris maka kita mendapati bahwa cinta, kasih, dan sayang diterjemahkan sebagai love, sedangkan suka diterjemahkan sebagai like. Mungkin sebagian remaja didoktrin oleh majalah, novel, teenlit, dan sinetron bahwa sayang dan cinta itu berbeda. Mereka akan berkata bahwa sayang belum tentu cinta, tapi cinta sudah pasti sayang. Sungguh amat disayangkan bahwa menurut saya pandangan ini menyempitkan arti cinta sebatas romantisme, dan sayang sebagai kasih yang universal.

Perlu kita akui bahwa bahasa kita sangat terbatas dalam merepresentasikan cakupan/ruang lingkup cinta. Parahnya, bahasa Inggris pun juga mengalami hal yang sama. Seperti kita ketahui bahwa ada berbagai macam cinta di dunia ini. Syukurlah bahasa Yunani mempunyai empat kata yang setidaknya jauh lebih baik dalam berbicara soal cinta secara spesifik. Kali ini saya tidak akan membahas satu-persatu, karena itu akan dibahas pada tulisan-tulisan berikutnya. Sebenarnya cakupan cinta tidak hanya terbatas pada empat kata tersebut, namun itu masih lebih baik dibanding dengan bahasa Indonesia atau Inggris.

Mari kita bahas hal yang paling sederhana, yakni suka. Kata ini sangat universal. Bisa kita kenakan kepada obyek apapun: seseorang, benda, hobi, pekerjaan, aroma tertentu, musik tertentu, warna tertentu, dan sebagainya. Kesukaan ini wajarnya muncul secara alami. Yaitu entah mengapa sesuatu itu memantik rasa suka, yang beberapa orang menyebutnya sebagai selera. Namun ada yang unik, sebenarnya suka bisa juga dikondisikan. Artinya, kita memegang kendali untuk memutuskan menyukai sesuatu atau tidak. Sebagai contoh: Bapak saya sejak kecil selalu menanamkan bahwa saya harus menyukai Matematika. Dari situ saya memprogram diri untuk menyukai Matematika. Saya mulai berkata kepada diri sendiri bahwa Matematika itu menyenangkan, sesulit apapun pasti ada solusinya, dan sangat bermanfaat bagi kehidupan kelak (walaupun saat itu belum tahu seberapa berguna). Syukurlah beliau berkata bahwa saya harus menyukai, bukan bisa/jago Matematika. Sungguh luar biasa, hal itu berjalan dengan baik. Saya bukan orang yang sangat istimewa dalam Matematika, namun saya bukan orang yang mudah menyerah dengan persoalan Matematika. Kesulitan justru menjadi pemicu semangat untuk mencari solusi. Mengapa saya bersemangat? Karena saya menyukainya. Contoh berikutnya: Ketika belajar tentang gizi di SD, saya tahu apa-apa saja yang bermanfaat bagi tubuh. Ketika saya tahu bahwa makanan/minuman tersebut bermanfaat, maka saya mengatakan/memerintahkan pada diri sendiri untuk menyukainya. Terlepas dari beberapa makanan yang rasanya pahit, getir, pedas, dan sebagainya, perintah yang saya berikan kepada diri sendiri ternyata berhasil. Hingga saat tulisan ini saya ketik, saya belum menemukan satu makanan/minuman pun yang tidak disukai, kecuali jika itu merusak tubuh.

Sekarang kita beranjak kepada cinta, dan pertanyaannya adalah: apa itu cinta? Bertahun-tahun saya berusaha mencari definisi dari cinta, tapi sejauh ini cukup sulit untuk mendefinisikan cinta secara sempurnya. Hal ini seperti sudah dibahas diatas, karena cakupan cinta sangat luas sekaligus spesifik. Namun ada kabar baik. Kita masih bisa mengenali hal-hal yang disebut sebagai indikasi adanya cinta, atau perbuatan-perbuatan yang menyiratkan adanya cinta di dalamnya. Dengan kata lain, orang yang mempunyai cinta dalam tingkat yang paling murni akan mempunyai ciri-ciri tersebut. Walaupun kita tidak bisa mengatakan dengan pasti bahwa seseorang melakukan perbuatan-perbuatan itu karena cinta. Mengapa demikian? Karena motivasi dari sebuah tindakan/perbuatan hanya orang tersebut dan Tuhan yang mengetahuinya.

“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Saya tidak akan membahas satu-persatu kalimat-kalimat yang sangat elok diatas. Kita bisa merefleksikannya pada diri kita sendiri. Adakah kita telah memenuhi semuanya? Sepertinya kalau kita bercermin dan menilik ke hati kita yang terdalam, kita akan mendapati diri kita jauh dari memenuhi hal-hal tersebut. Kita mendapati diri kita sebagai pecinta yang sangat buruk. Mengapa kita mendapati diri sebagai pecinta yang buruk? Karena sesungguhnya cinta tidak bisa kita hasilkan dengan sendirinya. Cinta seperti yang diindikasikan oleh kalimat diatas adalah cinta yang tidak bisa kita hasilkan sendiri. Seperti sebuah sungai yang mengalir dari gunung ke laut yang memiliki sumber mata air, cinta juga punya sumber yang itu pasti bukan diri kita sendiri. Orang yang tidak pernah atau mendapat cinta, akan sulit untuk mencintai. Kita hanya bisa memberi/berbagi sesuatu yang kita miliki. Jika kita memiliki (hasil dari menerima) kasih yang cuma sedikit, maka kita hanya bisa memberi sedikit kasih itu. Jika memiliki kasih yang banyak, maka bisa memberi kasih yang banyak. Jika merasa tidak dikasihi, maka sangat sulit untuk mengasihi.

Jika anda saat ini sedang dalam keadaan kekeringan kasih, dan menginginkan bahwa orang-orang yang seharusnya mengasihi anda akan datang untuk memberikan kasih itu, saran saya adalah: kubur keinginan anda sebelum anda semakin kecewa terhadap mereka. Lalu darimana bisa didapatkan kasih itu? Dari Sumber Kehidupan lah kita bisa mendapatkannya. Dialah Tuhan, Pencipta kita, yang bukan hanya memberikan kasih, tapi kasih-Nya lah yang sempurnya dan tiada taranya. Tak bisa dibandingkan dengan kasih yang pernah kita harapkan dari keluarga, kawan, sahabat, dan kekasih. Saat kasih-Nya mengisi hidup kita, Ia tidak akan mengisinya separuh, namun penuh, utuh. Sehingga kita tidak akan kekurangan lagi. Dengan demikian, pada gilirannya kita sanggup memberi/membagi kasih itu kepada sesama, dengan jalan membawa mereka kepada Sang Sumber.

Tuesday, January 28, 2014

Memaksakan Keyakinan

Jika anda bertemu dengan orang yang tidak percaya bahwa 1 + 1 = 2, apa yang anda lakukan? Apakah memaksanya untuk percaya? Sekalipun anda benar dan dia salah, memaksa bukanlah cara yang bijaksana. Apalagi jika memaki orang itu dengan panggilan bodoh.

Walaupun jika kenyataannya dia memang bodoh, bukankah sebaiknya kita menerangkan kepadanya ketimbang memaki? Memaki tidak lantas membuat seseorang beralih dari kondisi tidak paham menjadi paham. Justru yang sering terjadi malah sebaliknya, orang tersebut menutup diri terhadap kebenaran yang disampaikan. Orang yang sudah menutup pintu hati, pikiran, dan panca indera terhadap kita akan sulit diyakinkan. Oleh karena itu menjelaskan jauh lebih baik daripada memaki.

Tugas kita adalah menyampaikan mengapa kita menganggap benar bahwa 1 + 1 = 2 . Kebiasaan kita yang malas berpikir sering membawa kita pada jurus "pokoknya". "Pokoknya begini, percaya saja!". Jika jurus pokoknya sudah terlontar, biasanya ada juga jurus andalan untuk menghadapinya yaitu jurus "ngomong sama tangan". Kembali lagi, tugas kita adalah menjelaskan, menerangkan, berusaha meyakinkan, tapi bukan memaksa untuk jadi yakin atau paham.

Namun ternyata belum tentu kita benar juga. Menurut cara pandang orang lain kita bisa jadi yang dianggap salah. Dalam hal ini 1 + 1 hasilnya bukan 2 jika kita bicara dalam konteks bilangan biner. Lihatlah betapa keyakinan kita bisa salah dalam sudut pandang lain.

Keyakinan seseorang ditentukan oleh cara pandangnya. Satu contoh lagi adalah sifat dualisme cahaya. Cahaya bisa kita sebut sebagai partikel, itu benar, dan disaat bersamaan juga benar jika kita sebut gelombang. Dengan meyakini salahsatunya saja bukanlah sebuah kesalahan. Tapi jika orang yang meyakini cahaya hanya sebuah partikel kemudian berdebat dengan orang yang meyakini cahaya hanya sebagai gelombang, maka orang ketiga yang mengetahui bahwa keduanya benar mungkin akan tertawa geli.

Kesalahpahaman muncul karena prasangka, yang dibalut dengan wawasan yang sempit. Saat kesalahpahaman mulai berakar kuat, ia dengan mudah bertumbuh menjadi perselisihan, bahkan kebencian. Kebencian memunculkan perselisihan yang tidak sehat. Oleh karena itu, adalah sangat penting untuk meletakkan prasangka ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan dengan kita. Hal kedua yang juga penting adalah membuka wawasan kita selebar-lebarnya. Dan yang terpenting adalah empati, meletakkan diri pada posisi orang lain. Empati tidak hanya ditujukan kepada orang yang mengalami kesusahan, tapi juga orang yang berselisih dengan kita. Jika kita ada dalam posisi orang tersebut, apa yang sekiranya kita pikiran dan rasakan. Dengan jalan itu kita dapat beralih dari kesalahpahaman kepada kesalingpahaman.

Semoga tulisan ini bermanfaat

Tuesday, January 21, 2014

Ngoceh Tentang Buku

Tahun 2014, saya menargetkan diri untuk membaca setidaknya 30 buku. Target bulan ini baca 4 buku, karena memang ada 4 buku yang tersedia. Ternyata dalam 2 minggu sudah habis terbaca. Dalam gundah gulana menginginkan bahan bacaan baru, saya menjelajahi berbagai macam situs review buku. Dari situs goodreads, forum kaskus, sampai blog komunitas pecinta buku, semua sudah dijelajahi. Sejauh ini belum menemukan satu buku yang membuat saya ingin bergegas ke toko buku atau perpustakaan. 

Akhirnya baca lagi buku lama. The Shack, novel yang menurut saya jempolan. Walaupun sebenarnya ada kekurangan di sana sini, mungkin disebabkan karena baca versi terjemahan Bahasa Indonesia, namun secara keseluruhan buku itu menyuguhkan teologia secara cantik.

Namun, dari semua buku yang pernah dibaca, ada satu yang paling istimewa. Alkitab, buku paling luar biasa sepanjang jaman. Setelah selesai membacanya, tak lantas membuat saya bosan. Saya membacanya lagi, lagi, dan lagi(karena baru 3 kali membaca habis dari Kejadian sampai Wahyu). Bagi saya, Alkitab adalah "buku yang tak pernah tamat kubaca".

Semua pengetahuan yang diperlukan untuk hidup ada disana. Pengetahuan itu tak pernah usang. Ia aktual di segala jaman. Ia mencakup ilmu manajemen di semua area, baik itu pribadi, keluarga, kelompok masyarakat, sampai negara.

Latar belakang penulisnya pun bermacam-macam. Ada yang nabi, raja, farisi, bahkan petani dan nelayan. Apa yang membuatnya unik adalah semua penulis itu mendapat ilham dari Tuhan sendiri. Sehingga tidak didapati kesalahan atau pertentangan antara satu dan lainnya, walaupun waktu penulisannya ribuan tahun. Alkitab konsisten benar dan tepat. Sekali lagi, semua yang perlu diketahui untuk hidup tertulis disana.

Itulah yang sering membuat saya batal membeli suatu buku ketika berada di toko buku. Sering ketika membaca sample buku yang tidak tersegel, saya berkata dalam hati, "Ah, yang beginian juga ada di Alkitab". Semua standar moral yang perlu diketahui telah tertulis di Alkitab. Semua ilmu dan jurus untuk menjadi sukses juga tertulis di Alkitab. Begitupun tentang kepemimpinan, hubungan, motivasi, dan berbagai macam hal. 

Saya tidak berkata bahwa membaca buku kepemimpinan, manajemen, motivasi, dll tidak berguna. Tapi taukah para pembaca yang budiman, bahwa banyak buku-buku itu terinspirasi dari Alkitab? Maka bagi saya buku-buku itu adalah suplemen, bukan makanan pokok. Masalahnya saya sering menemukan orang-orang Kristen yang lebih doyan suplemen daripada makanan pokok. Jika itu termasuk anda, maka saya sarankan dan anjurkan anda kembali menggemari Alkitab.

Sebagai penutup, taukah pembaca mengapa saya menargetkan untuk membaca minimal 30 buku? Rhenald Kasali pernah berkata bahwa rata-rata CEO perusahaan besar membaca setidaknya 30 buku dalam setahun. Jika para CEO, orang-orang yang sangat sibuk saja sanggup, dan mereka ingin meningkatkan kualitas diri dengan membaca, mengapa kita tidak? Anda boleh berkata bahwa saya kecanduan buku. Setidaknya bagi saya itu lebih baik dari kecanduan cukrik :)

Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat.

Monday, January 13, 2014

Menggauli Buku

Beberapa hari yang lalu saya bertemu di dunia maya dengan kawan semasa SMA. Usai ngobrol singkat kami bertukar nomer ponsel. Sejenak saya teringat masa-masa sekolah. Masa penuh perjuangan, dimana saya harus selalu masuk ke sekolah negeri mengingat orang tua hanya sanggup membiayai sekolah jika saya masuk ke sekolah negeri. Ketika kenangan-kenangan yang muncul itu, saya terusik oleh sebuah fenomena yang sangat umum kita temui.

Di sekolah, kita punya buku pegangan yang sama. Tapi mengapa ada yang sangat menguasai materi, ada yang biasa, dan ada yang kurang dalam memahami materi? Saya memaklumi bahwa hampir tidak mungkin seisi kelas mendapat nilai yang sempurna seluruhnya. Setiap pribadi punya bidang kejeniusan masing-masing. Namun saya percaya jika ada kemauan pasti ada jalan. Jika mau berusaha, semestinya kita tidak akan berakhir dengan tangan hampa. Berdasarkan pengamatan saya selama bersekolah, kecerdasan memang berpengaruh, tapi itu hanya pada seberapa cepat daya tangkap seseorang. Orang dengan tingkat kecerdasan tinggi dalam bidang tertentu akan lebih mudah memahami materi pelajaran bidang tersebut dibandingkan dengan mereka yang punya kecerdasan dibawahnya. Bagi yang punya kecerdasan logis-matematis yang sangat tinggi bisa memahami penjelasan guru Matematika dalam sekali sesi, sementara yang lain mungkin butuh perulangan beberapa kali untuk memahaminya. Demikian pula dengan kecerdasan-kecerdasan lainnya (multiple intelegence). Bimbingan belajar di luar sekolah juga bukan faktor utama, karena teman SMA yang rangking satu paralel pun tidak ikut bimbingan belajar. Padahal menurut saya, dia juga bukan murid paling cerdas yang ada di sekolah.

Bagi saya, alasan terkuat mengapa ketimpangan itu terjadi adalah perbedaan dalam “menggauli buku”. Mari saya jelaskan mengapa saya gunakan istilah menggauli buku. Menggauli, bukan cuma dipegang (karena memang buku pegangan minimal fungsinya untuk dipegang), tapi juga dibaca, dikritisi, digali, dirasakan, dikepoin, dinikmati tiap lembarnya seperti menikmati makanan kesukaan, dikejar untuk mencari solusi permasalahan yang tertulis didalamnya. Untuk bisa melakukannya dibutuhkan kecintaan. Mari mengingat pesan guru selama kita sekolah yang berkata demikian: cintailah semua mata pelajaran sekalipun gurunya tidak kau sukai. Pesan ini disampaikan oleh sebagian besar guru selama kita sekolah. Beliau-beliau sadar bahwa kadang metode yang dipakai tidak disukai oleh sebagian murid, tapi jiwa pengajar sejati tak menginginkan muridnya membenci pelajaran yang diajarkan. Lalu mengapa buku? Bukankah ada berbagai macam sumber materi pembelajaran? Ya, tentu saat ini ada banyak media pembelajaran selain dari buku. Saya adalah orang yang lebih auditori ketimbang visual. Lebih suka mendengar daripada membaca. Tapi fakta-fakta berikut membuat saya harus mencintai membaca: Pertama, media dengan sumber (resource) yang terlengkap saat ini adalah buku, dibandingkan dengan audio atau video. Jika saya ngotot hanya mau belajar dari mendengar maka saya menutup pintu bagi sekian banyak informasi yang belum tersedia dalam bentuk audio. Kedua, media buku bisa dibaca dimanapun, kapanpun, hanya dengan satu syarat, yaitu penerangan (sinar) yang cukup. Sementara untuk media audio dan video akan butuh catu daya (sumber listrik), entah itu baterai atau listrik AC dari PLN, untuk menyalakan perangkat pemutar audio/video. Ketiga, buku memiliki nilai ekomonis yang lebih baik bagi konsumen karena umumnya lebih murah daripada media audio/video yang berbayar. Keempat, secara ketahanan, umumnya buku lebih awet (umurnya lebih panjang) dibanding media audio/video. Buku hanya rusak jika disobek atau dibakar, sementara media penyimpanan audio-video lebih mudah terkena jamur (CD/DVD), rentan terkena virus atau terformat (flashdisk dan harddisk).

Saya teringat suatu peristiwa saat kuliah semester 5, kalau tidak salah Pengolahan Sinyal Digital. Menjelang UAS saya dan beberapa teman memutuskan untuk belajar bersama. Berbekal soal-soal UAS semester sebelumnya kami pun berlatih. Sungguh mencengangkan, bahwa tidak satupun soal-soal tersebut dapat kami selesaikan. Harap diketahui bahwa saya belajar dengan mahasiswa-mahasiswa yang cerdas dan fantastis. Tapi begitulah kenyataannya, kami tidak bisa menyelesaikan satupun soal. Singkat cerita kami menyerah. Setelah berunding kami memutuskan untuk minta petunjuk kepada dosen, namanya Pak Suwadi. Di ruang dosen kami bilang, “Permisi pak, kami mau tanya tentang soal semester lalu yang kurang paham. Nomer 3 ini gimana ya pak?”. Kemudian dosen menerangkan solusinya. Selanjutnya kami bertanya tentang nomer 1, dosen pun menjawab. Lalu kami bertanya tentang nomer 4, dan dosen mulai curiga, “Jangan-jangan ini kalian nggak ada yang bisa jawab”. Kami cuma meringis, “Hehehehe”. Singkat cerita akhirnya bapak dosen menjawab semua soal (5 buah soal), setelah itu memberi wejangan: “Anak jaman sekarang ini nggak ada fighting spirit nya. Kan tiap pertemuan saya kasih tugas beberapa soal dari buku untuk dikerjakan sebagai latihan di rumah. Walaupun itu tidak untuk dikumpulkan, bukan berarti tidak untuk dikerjakan.” beliau melanjutkan, “Kalian tau gak, Pak Gam (Prof. Gamantyo Hendrantoro - red) itu dulu semasa kuliah bukan cuma ngerjakan soal yang disuruh sama dosen, tapi semua soal di buku dia kerjakan. Bahkan dia semasa masih mahasiswa berani bilang kalau Prof. Proakis (penulis buku terkenal di jagad persinyalan) itu salah. Ada yang salah di bukunya Proakis dan dia berani membuktikan”. Glek, kami hanya menelan ludah.

Kami sadar bahwa sebuah kesalahan besar kami meremehkan tugas yang memang oleh dosen tidak pernah diminta untuk dikumpulkan karena memang tidak dinilai. Tapi itu menjerumuskan kami pada ketidaktahuan yang fatal. Jangankan latihan soal, baca materinya saja sudah aras-arasen alias malas. Saat terhimpit, kepepet, baru kami mau buka buku, itupun juga masih kesulitan. Bukankah dalam kehidupan ini kita juga sering melakukan hal yang sama. Kita meremehkan hal-hal yang kita anggap bisa kita pelajari nanti. Padahal sesungguhnya ujian hidup tidak pernah bisa kita prediksi datangnya. Itu sebabnya kalimat, “nanti sajalah belajar kalau sudah dekat ujian” tidak bisa kita kenakan ke dalam ujian kehidupan. The power of kepepet bisa bekerja baik dengan syarat kita setidaknya pernah mengatahui ilmu yang berguna untuk melalui persoalan tersebut. Jika kita tidak tahu ilmunya, the power of kepepet hanya akan memunculkan spekulasi yang mirip melempar dadu untuk menjawab soal pilihan ganda. Itu tidak lebih dari perjudian yang bodoh. Maka sebelum terlambat, mari belajar. Mari menggauli buku.

Buku pegangan sebaik apapun, jika tidak pernah digauli, tidak akan mendatangkan mafaat.

Monday, January 6, 2014

Mari (JANGAN) Cari Pembenaran

Beberapa bulan lalu, setengah jam sebelum selesai kerja, datang sebuah SMS: “Bro, sorry aku rada telat. Masih ada urusan”. Ini bukan kali pertama SMS serupa saya terima. Sudah sekian kali Mr X (sebut saja begitu), rekan kerja saya, mengirim SMS dengan nada serupa. Sebagai informasi, saya bekerja dengan sistem shift. Artinya, saya tidak bisa meninggalkan kantor jika rekan yang bertugas shift berikutnya belum datang. Setelah 30 menit lewat dari jam pergantian shift, rekan saya datang. Saat itulah saya bisa meninggalkan kantor.

Beberapa hari kemudian saya bertugas dalam shift yang sama dengan Mr X. Satu jam sebelum shift berakhir, dia berkata, “Bro, kamu pulang dulu aja. Gak pa pa kok”. Hal itu tentu mengejutkan saya. Dengan enteng saya menjawab, “Santai aja bro. Aku pulang tepat waktu aja”. Saya memutuskan untuk pulang sesuai jadwal.

Dari peristiwa tersebut saya menduga, bahwa untuk menebus rasa bersalahnya karena membuat saya telat pulang beberapa hari sebelumnya, maka Mr X “mengijinkan” saya untuk pulang lebih awal. Namun saya memegang suatu prinsip bahwa: Dalam pekerjaan ini, saya bertanggungjawab kepada perusahaan. Kesepakatan kerja saya adalah sekian jam kepada perusahaan. Jadi saya sepatutnya menggenapi jam kerja yang telah disepakati. Saya berkata (dalam hati alias mbathin), “Kalau kamu merasa berhutang, bayarlah ke perusahaan. Jangan seret saya di permainan permisif yang kedepannya bisa membangkitkan kebiasaan nelat”. Mungkin saya terlalu berpikiran buruk. Namun sangat sulit untuk tidak menghubungkan peristiwa telatnya Mr X dengan “ijinnya” supaya saya pulang lebih awal.

Kadang, bahkan sering, saat kita membuat kesalahan dan menyadarinya, kita menyesal. Hal itu tentu saja baik. Namun, kemudian kita menentukan dengan cara kita sendiri untuk menyelesaikannya (mungkin lebih tepat menutupinya) dengan mengalihkan kepada hal-hal lain yang sebenarnya bukan solusi yang tepat. Pada titik yang lebih parah, kita kemudian menyeret atau mendorong orang lain untuk melakukan kesalahan yang sama, guna merasa tidak sendirian. Cari komplotan, cari bolo, cari orang yang sama-sama bersalah untuk mengurangi rasa bersalah sebenarnya tidak mengurangi kesalahan. Justru kita makin bersalah karena membuat orang lain ikut bersalah. Namun kita berdalih demikian: Setidaknya, jika rasa bersalah itu tidak berkurang, kita tidak merasa sendiri. Kebersamaan dalam kesalahan (dosa) membuat kita sedikit merasa tenang dan aman.

Ketika kita tengok jauh ke belakang, bukankah itu juga terjadi saat nenek moyang kita jatuh dalam dosa? Hawa memetik buah, memakannya, memberikannya pada suaminya sehingga suaminya pun memakannya. Jadilah mereka berdosa bersama-sama. Berkomplot dalam dosa. Bukankah dalam kehidupan kita sering mendengar orang yang suka mengancam, “Aku tidak akan mati sendiri, aku akan menyeret sebanyak mungkin orang”. Memang begitulah sifat alami dosa: Cari kawan dan cari pembenaran.

Hal pertama tentang cari komplotan sudah kita telanjangi, sekarang mari kita lihat peristiwa berikutnya. Jika melangkah sedikit maju, kita temui kisah bangsa Israel di padang gurun yang bersungut-sungut pada Tuhan. Suatu dosa yang sangat besar dimata Tuhan sehingga Tuhan murka dan bersumpah bahwa angkatan mereka (orang-orang dewasa) tidak akan masuk tanah perjanjian. Lihatlah apa usaha mereka untuk melunakkan hati Tuhan, mereka maju berperang dengan usaha sendiri. Suatu upaya yang tampak cukup baik, tapi sangat bodoh. Karena mereka maju berperang tanpa penyertaan Tuhan, maka kalahlah mereka. Dengan kata lain umat itu berkata, “Ok deh Tuhan, kami salah. Sekarang kami akan berbuat sesuatu untuk menyenangkan-Mu dengan cara yang kami anggap baik”. Ternyata kemudian usaha mereka sia-sia, bahkan dapat dikatakan keadaan mereka semakin buruk. Berikutnya, masih dari kisah bersungut-sungutnya bangsa Israel yang berteriak kehausan. Musa, dalam desakan orang Israel, bertindak diluar ketetapan Tuhan. Dia tidak bertindak dalam “ketepatan” alias tidak bertindak tepat seperti yang Tuhan perintahkan. Tuhan memandangnya sebagai tindakan tidak percaya kepada-Nya dan tidak menghormati kekudusan-Nya. Akibatnya, Musa harus menanggung konsekuensi yakni tidak bisa memasuki tanah perjanjian.

Dari perenungan ini mari kita tarik pembelajaran. Pertama, saat kita melakukan kesalahan (dosa), bertanggungjawablah atas kesalahan kita sendiri. Jangan cari pembenaran atau rasa aman dengan menyeret orang lain dalam kesalahan, atau mencari pelaku-pelaku kesalahan yang sama agar kita bisa bersekutu dengan mereka. Dari pelajaran diatas kita tahu bahwa cari pembenaran justru menjauhkan kita dari jalan yang benar. Kedua, jangan gunakan cara kita sendiri untuk menyogok (menyuap) Tuhan agar murka-Nya surut atas kita. Bertobat adalah satu-satunya jalan pengampunan. Menyogok Tuhan, dengan perbuatan baik, pelayanan yang semakin aktif, dan kegiatan-kegiatan baik lainnya tidak akan membantu. Bahkan kegiatan rohani pun tidak akan meluputkan kita dari akibat kesalahan selama kita tidak bertobat. Bertobat bukan hanya ucapan bibir dan perasaan menyesal. Bertobat melibatkan penyerahan diri sepenuhnya dan kesediaan untuk taat pada tuntunan Tuhan. Itu artinya buah pertobatan itu dapat terlihat nyata. Nyata dari hati yang diperbaharui dan muncul dari karakter yang disempurnakan.

Pertobatan sampai titik ini bukan hal yang mudah, tapi juga bukan hal yang mustahil. Hanya oleh Roh-Nya lah kita sanggup melakukannya. Roh-Nya yang tinggal dalam kitalah yang memampukan kita. Ialah yang memberi kita kekuatan untuk sanggup taat akan Firman. Kita hanya dapat berjalan dalam ketepatan-Nya jika kita belajar dan menaati ketetapan-Nya. Roh Kuduslah yang mengajar kita tentang ketetapan-Nya. Tanpa Roh-Nya berkarya dalam diri kita, semua upaya kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik akan menciptakan rasa frustasi. Tanpa Roh Kudus, upaya pertobatan kita bagaikan berdandan di depan kaca tanpa penerangan apapun. Kita tidak mampu, tapi dimampukan. Kita tidak layak, tapi dilayakkan. Kita rusak, cacat, dan penuh cela, tapi dibenarkan, dipulihkan, dan disempurnakan.